Gadis Senja

Gara-gara Iseng Mengejar Kucing

Aku punya kebiasaan mengejar-ngejar kucing sejak kecil. Kucing jalanan, peliharaan orang lain…semuanya sama. Aku sangat suka kucing, sampai-sampai setiap kali melihatnya, bawaannya pengen nyamperin dan ngelus-ngelus. Ada sih, kucing-kucing yang nggak keberatan, sementara kucing-kucing yang lain lebih memilih kabur.

Kucing-kucing yang memilih melarikan diri dariku kuanggap sebagai tantangan tanpa akhir. Bagiku, rasanya belum puas kalau belum berhasil mengelus-elus mereka – barang sekali dua kali. Aku suka kelembutan bulu mereka, begitu tebal. Tentu saja, habis itu kulepaskan mereka dan tertawa, sementara kucing-kucing itu kabur.

Beberapa ekor kucing yang pernah kutangkap lebih dari sekali lama-lama kalem juga saat kudekati kembali. Mungkin nggak semuanya jadi jinak dan ramah, tapi seenggaknya mereka nggak kabur-kabur lagi kayak sebelumnya. Mungkin kucing-kucing itu sudah percaya aku akan melepaskan mereka setelah puas mengelus-elus mereka.

Kucing-kucing yang lain? Yah, begitulah. Aku sudah pernah beberapa kali dicakar dan digigit oleh mereka. Anehnya, aku tidak kapok-kapok juga. Aku bahkan tidak peduli orang-orang akan menganggapku aneh dan kekanak-kanakan – seorang perempuan dewasa yang masih suka mengejar-ngejar kucing seolah masih jadi gadis kecil yang doyan cekikikan.

-//-

Gendut (Foto: freepik.com)

Gendut adalah salah satu kucing yang hingga kini masih belum bisa kuelus. Enggak, serius – memang itu namanya. Entah kenapa tetanggaku menamai kucing itu demikian, tapi kucing itu memang gendut. Kucing jantan belang-belang hitam-putih itu masih suka kabur setiap kali kuhampiri.

Kelihatan sekali kalau Gendut tidak suka kuganggu setiap kali ada kesempatan. Contohnya, setiap kali dia hendak meninggalkan gang dan aku kebetulan berada beberapa langkah di depannya – lengkap dengan seringai di wajahku, Gendut akan terdiam kaku sesaat. Lalu, seakan mengukur peluangnya untuk kabur, biasanya dia berusaha menghindariku dengan berlari ke samping.

Pertama, kucing itu akan bergerak ke kiri. Saat aku berusaha menghadangnya, Gendut beralih bergerak ke kanan. Saat akhirnya sadar bahwa aku takkan membiarkannya lewat begitu saja, sering Gendut memilih salah satu dari taktik kabur di bawah ini:

  1. Melompat ke atas tembok rumah, lalu ke atap, karena tahu aku takkan pernah bisa menangkapnya di sana. Lalu, dia akan berlari dan melompat dari atap ke atap rumah hanya untuk meloloskan diri dariku.
  2. Berbalik dan lari setiap kali mendengar kakiku melangkah cepat di belakangnya. Aku tahu, aku bertingkah seperti perundung di taman bermain.

Kadang dia mengeong protes dan marah. Kalau ada yang bisa menerjemahkannya, Gendut mungkin ngomel-ngomel begini: “Jangan ganggu aku, wahai manusia!”

Aku tidak marah bila Gendut berhasil kabur dariku. Aku malah tertawa, karena tahu masih ada hari lain untuk kesenangan macam ini. Senang-senang versiku sih, bukan versi si kucing.

-//-

Kadang si Gendut duduk di atap mobil Toyota majikannya saat malam hari, sambil memata-matai sekelilingnya. (Dia cocok jadi versi murah kamera CCTV sih, meski sayang kita nggak akan pernah bisa lihat hasil rekamannya!) Kalau begitu, biasanya aku mencoba menggoyang-goyangkan mobilnya hingga si kucing merasa tidak nyaman, melompat turun, lalu kabur ke dalam rumah pemiliknya.

Tentu saja, aku harus berhati-hati. Satu malam, aku pernah mengguncang mobilnya terlalu keras hingga alarmnya berbunyi. Tidak hanya Gendut yang melompat turun dari mobil, aku juga harus kabur dari lokasi. Saat itu sudah pukul sebelas malam dan jalanan sudah sepi sekali. Aku baru saja pulang dari pertemuan klub penulis dan berjalan kaki pulang. Majikan si Gendut adalah polisi – dan aku nggak mau sampai dikira mencoba mencuri mobil, padahal aku hanya mengganggu kucingnya yang gendut.

Aku harus berhenti mengejar-ngejar kucing untuk sementara waktu gara-gara satu kejadian lagi di malam yang lain. Beberapa bulan sesudah kampanye #jagajarakaman selama pandemi mulai digalakkan, aku kembali mengejar-ngejar Gendut sepanjang jalan sepi. Seperti biasa, kucing itu kesal. Dia masih berlari-lari menghindariku ketika tiba-tiba…

Motor (Foto: freepik.com)

CIIIIT! BRAAKK!!                                            

Aku berhenti mengejar dan terkesiap. Seorang pengendara motor dari arah lain mengerem mendadak saat melihat Gendut berlari menyeberang jalan di depannya. Syukurlah, Gendut selamat tiba di seberang jalan.

Sayangnya, nasib si pengendara motor tidak beruntung. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh dari motornya. Suara ricuh kecelakaan tersebut langsung membangunkan beberapa orang tetangga di rumah-rumah terdekat. Beberapa dari mereka langsung keluar dan membantu si pengendara motor begitu melihat yang terjadi.

Sementara aku? Aku langsung kabur pulang seperti pengecut. Aku benar-benar tidak menyangka hal tersebut akan terjadi. Meskipun si pengendara motor tampaknya baik-baik saja, kuharap tidak ada seorang pun yang melihatku malam itu…

  • Selesai

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.