PERGI, AKU BENCI KAMU!

Handi:

“Pergi, aku benci kamu!”

Erika melempar bantal ke arahku. Ini sudah kesekian kalinya dia mengamuk. Padahal, lagi-lagi masalahnya sepele.

Kali ini soal makanan. Erika harus mengikuti pola diet berupa makanan organik. Lebih banyak sayur dan buah. Biasanya, dia menurut bila mood-nya sedang bagus. Namun, kali ini istriku mengamuk. Dia menuntut ingin daging steak, yang jelas-jelas mahal harganya dan mengandung zat karsinogen.

“Memangnya aku kelinci? Aku udah kerempeng gini!”

Memang, Erika sudah sangat kurus, sebanyak apa pun dia makan. Masalahnya, dia lebih banyak memuntahkannya kembali karena mual. Wajahnya juga sangat pucat.

Rambutnya juga sudah lama habis dan tidak tumbuh lagi. Ah, aku semakin benci dengan kanker yang semakin menggerogoti otaknya. Aku benci dengan kemoterapi yang terus-menerus menyiksanya.

Erika dulu sangat cantik…dan bahagia. Aku sangat mencintainya, tidak peduli seringnya dia memaki-maki akhir-akhir ini, mengatakan benci. Itu salah kanker di otaknya. Bukan Erika. Erika aslinya baik sekali…

aku benci kamu

Pergi! Aku benci kamu!!!

Erika:

Aku muak melihat Handi. Aku muak melihat matanya yang akhir-akhir ini tampak berkaca-kaca. Dasar cengeng! Kenapa dia harus terus mengasihaniku begitu?

Dan kenapa dia masih saja di sini, terus merawatku? Laki-laki lain pasti udah nggak tahan lagi, lalu minggat dan kawin lagi.

Terserah orang mau menganggapku nggak tahu terima kasih dan kurang bersyukur. Kurang sabar. Hahaha, kurang sabar apa coba? Dua belas tahun harus berurusan dengan kanker sialan ini? Memangnya enak? Memangnya mereka sudah pernah mengalami?

Kalau dikira aku sudah tidak cinta Handi, salah besar. Handi masih sangat tampan. Ya, aku sangat beruntung. Terlepas dari kurang tegasnya Handi sebagai laki-laki, sesungguhnya dia sangat baik.

Aku hanya sakit dan sekarat, bukan bodoh. Aku lebih suka melihat Handi bahagia bersama perempuan lain yang lebih sehat, cantik, dan bisa menjaganya dengan sepenuh hati. Perempuan yang lebih menyayanginya.

Bukan, bukan terjebak terus denganku di sini. Sungguh, aku tidak sudi.

Handi:

Ah, haruskah aku merasa lega? Setidaknya, kamu tidak lagi menderita.

Ah, tapi apa kata mereka? Aku rela disalahkan. Aku yang lupa menutup pintu kaca menuju balkon malam itu, akibat terlalu lelah.

Entah apa yang kau pikirkan malam itu, Erika. Mungkin kanker telah menggerogoti otakmu sedemikian rupa hingga kamu pun linglung. Mungkin tiba-tiba kamu teringat dan mulai kembali berkhayal bahwa kamu seperti dulu, seorang atlet renang dan lompat indah negeri ini.

Turut berduka, begitu ucapan mereka saat pemakamanmu. Banyak yang mengasihaniku, meski banyak juga yang bertanya-tanya perihal penyebab kematianmu.

Tidak, mereka tahu aku sama sekali tidak membunuhmu. Bila ya, harusnya sudah kulakukan dari dulu. Entah siapa yang cukup gila untuk memanggil polisi, yang kemudian menginterogasiku.

Tidak ada bukti. Aku juga enggan percaya kamu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk…

…bunuh diri…

Ah, tak sanggup rasanya memikirkan kemungkinan itu. Bahkan, meskipun mungkin kamu sengaja melakukannya untuk ‘membebaskanku’.

Bebas? Ah, dari mana kamu bisa dapat pikiran segila itu? Bebas? Aku? Erika, apa arti kebebasan ini bila tanpa kamu?

“Pergi, aku benci kamu!”

Nice try, honey. Aku tahu kamu tidak pernah serius saat mengucapkan itu. Kamu tidak bisa membodohiku. Dari mana bisa kutahu? Aku pernah pura-pura tidur dan bisa melihatmu memandangiku. Tatapan dan senyumanmu punya satu arti yang selalu kutahu akhir-akhir ini: sedih.

Dari psikiater yang sudah lama enggan kamu temui, aku juga tahu taktikmu:

“Istri Anda berusaha menerima saat-saat terakhirnya. Memang, ini mekanisme bertahan yang tidak ideal, tapi ada beberapa pasien yang melakukannya. Mereka sengaja menyakiti hati pasangan dan anggota keluarga. Harapan mereka? Pasangan dan keluarga yang nanti ditinggalkan tidak akan terlalu sedih dan merindukan mereka.”

Sayang sekali, kamu gagal, Erika. Aku malah semakin sedih, karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah bisa membencimu.

Tapi, aku mengerti. Kamu tidak ingin aku terlalu lama bersedih. Kamu hanya ingin aku segera bahagia kembali.

Sayangku, aku tidak bisa berjanji. Aku hanya bisa berjanji untuk mencoba, terus menjalani sisa hidup ini dengan namamu di hati…

 

4

No Responses

Write a response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.