Gadis Senja

Kencan Pertama

“Kamu mau pesan apa?”

Tara melirik menu dengan cepat. Gadis langsing berambut ikal gelap itu tidak butuh waktu lama untuk memutuskan.

“Salad, kentang rebus, dan air mineral saja.”

Alan meliriknya dengan tatapan tidak percaya. “Yakin kamu maunya itu saja?” Ketika Tara hanya mengangguk sambil tersenyum, Alan bertanya lagi, “Terus dessert-nya mau apa?”

“Hmm, nanti dulu, deh.” Tara menutup menu di tangannya. Alan langsung memanggil pelayan restoran dan menyebutkan pesanan mereka berdua.

Tidak seperti Tara, malam itu Alan memesan menu lengkap. Steak, kentang goreng, salad, dan es teh manis. Semuanya tampak menggiurkan di mata Tara, namun gadis itu berusaha tidak menunjukkannya.

Keduanya mengobrol dengan santai. Menurut Tara, Alan pemuda yang manis, dengan wajah kekanak-kanakan dan rambut yang juga ikal gelap.

Begitu saatnya memesan hidangan penutup,Tara permisi ke toilet sebentar.

“Mau kupesankan es krim atau puding?” tawar Alan. Tara menggeleng sambil tersenyum.

“Nanti saja, deh. Terima kasih,” tolaknya halus. “Aku permisi dulu, ya.”

Dan Tara pun pamit ke toilet wanita sambil membawa tasnya…

— *** —

Beberapa menit kemudian, Tara keluar dari toilet. Saat hampir sampai kembali ke meja mereka, didengarnya suara Alan. Ternyata pemuda itu sedang berbicara lewat ponselnya.

“…cantik sih, tapi jaim,” keluh Alan. “Gue tahu banyak cewek yang takut banget gemuk. Tapi, masa diajak pergi makan hanya pesan salad?”

Hati Tara mencelos. Lagi-lagi dia kecewa. Satu lagi kencan pertama yang tidak ingin dia lanjutkan.

Ah, andai saja Alan tidak terlalu cepat menilainya demikian. Kadang serba salah memang jadi perempuan. Makan banyak dianggap rakus, giliran makan sedikit malah dikira jaim, sok diet. Padahal, masalah Tara lebih dari soal itu. Alan tidak tahu dengan insulin pack di dalam tasnya – maupun yang sempat dilakukan Tara di toilet tadi.

Tara hanya mengkhawatirkan kadar gula di dalam tubuhnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.