Senja Indonesia

Updated: #16 – Peluk

‘Hanya satu yang kuinginkan. Seseorang yang mau memelukku. Memberiku kehangatan. Kenyamanan. Keamanan. Yang selama ini kuimpikan. Hanya itu.’ Pintanya kepada Yang Kuasa. Tanpa sengaja kudengar doanya itu.

Updated: #16 - Peluk 2

Rein baru saja menyelesaikan sholatnya dan sedang memanjatkan doa kepadaNya kala aku melintas surau di tengah danau itu. Aku baru saja hendak merapikan surau seperti yang dipinta ayahku saat kudengar doa Rein itu.

Sederhana…

Aku tahu betapa sederhananya doa Rein. Namun tersimpan beribu harap dan rindu yang dapat kurasakan dari doanya itu. Tanpa sadar air mataku turut mengalir perlahan.

***

Rein… Seorang anak yatim piatu yang berada di panti di bawah naungan ayahku ini. Salah satu dari puluhan anak yang tak seberuntung diriku. Mereka tak mengenal orang tuanya.

Sedang aku, berkali-kali aku mengecam ayahku karena dia tak membelikanku barang seperti yang kuinginkan. Aku tahu ayahku mendapatkan banyak uang dari orang-orang.

‘Itu hak mereka Ni. Bukan hakku. Bukan hak emakmu. Bukan pula hakmu. Tapi hak mereka.’ Ujar ayahku mengingatkanku saat itu. Yang tentu saja kubalas dengan muka masamku. Ibuku yang melihat mendekatiku dan memelukku.

Tapi dengan segera kutepis pelukan ibuku. Karena aku tahu. Ibuku sama saja seperti ayahku. Lebih membela mereka. Lebih mementingkan mereka. Itu yang kuteriakkan kepada mereka saat itu.

Kini… Mendengar pinta Rein yang sederhana itu membuatku terenyuh dan merasa sangat rendah. Aku hanya karena sebuah jam tangan model terbaru, bukan karena jam tangan lamaku rusak – melainkan hanya ketinggalan jaman, bisa mengecam dan berteriak kepada ayah ibuku. 

Updated: #16 - Peluk 3

Saat itu juga aku merasa bersyukur atas hidupku…. hidup yang lebih baik dari puluhan anak lain di panti ini. 

Rein… Rein hanya menginginkan sebuah pelukan. Pelukan dari orang yang menyayanginya. Pelukan yang selalu kudapatkan dari ayah dan ibu di kala aku sedih, bahagia. Pelukan yang buatku tak ada artinya. Pelukan yang tak bermakna hanya sekedar: ‘sudah jangan sedih. Nanti dibelikan yang baru.’

Rein baru saja beranjak meninggalkan surau saat dia melihatku terduduk di pojok halaman surau.

‘Kak… Kakak Airin kenapa?’ Tanya Rein.

Aku tak dapat menjawab. Aku hanya menatap Rein yang baru berumur 7 tahun di hadapanku. Tak tampak bekas tangis di wajahnya, mungkin dia telah menghapus paksa bekas itu karena tak ingin diketahui oleh yang lain, terutama ayah dan ibuku, yang pasti akan sedih mendengarnya.

Aku menatapnya beberapa saat hingga Rein memanggilku lagi. Aku pun tersadar dari lamunanku. Aku bersimpuh pada lututku mensejajarkan diriku dengan Rein. Segera kupeluk Rein dengan erat.

‘Rein…’ Bisikku di telinganya. ‘Aku akan selalu menjagamu. Aku kan menjagamu sebagaimana kakak menjaga adiknya. Aku kan selalu menjagamu.’

Rein hanya diam. Dia bingung. Namun perlahan tangannya membalas pelukanku.

‘Aku berjanji kan menjagamu Rein. Aku takkan biarkanmu dalam kedinginan. Aku hanya kan menorehkan senyum dalam setiap mimpimu.’ Ujarku.

‘Kak… Kak Airin. Aku selalu menganggap kakak sebagai kakakku kok. Namun hari ini aku jauh lebih bahagia karena kakak mau menganggapku adik.’ Jawabnya dengan senyuman terukir di wajahnya. ‘Aku tahu kini. Aku kan aman selalu dalam hidupku karena aku punya kakak.’

24 Comments

  1. johanesjonaz 20 Februari 2013
  2. jampang 13 Agustus 2013
  3. ditter 13 Agustus 2013
    • Ryan 13 Agustus 2013
  4. duniaely 13 Agustus 2013
    • Ryan 13 Agustus 2013
  5. araaminoe 14 Agustus 2013
    • Ryan 14 Agustus 2013
  6. eda 14 Agustus 2013
    • Ryan 14 Agustus 2013
      • eda 14 Agustus 2013
        • Ryan 14 Agustus 2013
  7. tinsyam 14 Agustus 2013
    • Ryan 14 Agustus 2013
  8. dani 14 Agustus 2013
    • Ryan 14 Agustus 2013
  9. noe 14 Agustus 2013
    • Ryan 14 Agustus 2013
      • noe 14 Agustus 2013
        • Ryan 14 Agustus 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.