Piano Kesepian yang Merindukan Nada-Nadamu

Piano hitam besar itu tampak berdebu di ruang tengah. Seminggu berlalu dan belum sempat kubersihkan.

Ah, aku bahkan enggan menyentuhnya…

Dulu, piano itu begitu terawat, hingga ke sudut senar dan sela tuts. Hitam mengkilat di permukaan, tampak elegan.

Kamu rajin membersihkannya. Bagimu, piano itu bukan hanya alat musik. Piano itu ibarat partner-in-crime, baik saat berkarya maupun tampil di atas panggung. Dentingnya pengiring suaramu yang memang merdu.

Aku mengerti dan tidak boleh cemburu. Konyol, karena itu hanya piano. Lagipula, ini caramu mencari nafkah – termasuk untukku dan anak-anak.

Kamu tahu, betapa bangganya aku dan anak-anak denganmu? Kadang mereka suka bercerita kepada teman-teman mereka di sekolah:

“Salah satu papaku nyanyi sambil main piano. Papa suka manggung dan tampil di TV.”

Aku ingat kekhawatiran yang tampak di wajah tampanmu waktu itu. (Wajah tampan yang juga awet muda, meski bertambahnya usia.) Kamu tidak mau kita menjadi sasaran media. Kasihan anak-anak. Biarlah cinta ini cukup kita yang tahu. Tidak semua akan dan mau mengerti. Masih terlalu banyak yang akan menghakimi.

Biarlah cinta ini menjadi urusan kita pribadi. Aku mengerti. Karirmu yang sudah berusia lebih dari dua dekade masih jadi taruhan. Tidak peduli bakatmu dan kepribadianmu yang menawan. Perkara moral akan selalu mengganjal. Padahal, seharusnya ini hanya antara kita berdua.

Banyak hal yang bisa kumengerti, sama seperti yang kunikmati. Jadwal kerjamu yang seakan tanpa henti. Aku yang lebih banyak mengurus rumah dan anak-anak di sini.

Namun, saat pulang, kamu memang benar-benar pulang. Ponsel lebih sering dimatikan. Kamu benar-benar meluangkan waktumu denganku dan anak-anak. Aku sangat bahagia.

Aku merindukan terbangun oleh denting pianomu. Selarut apa pun tidurmu, kamu selalu masih bisa bangun lebih pagi dariku. Mungkin ilham adalah energi terbesarmu. Aku selalu menemanimu di samping piano, lengkap dengan secangkir teh hangat rasa mint kesukaanmu. Hanya duduk dan diam mendengarkanmu, sebelum anak-anak terbangun dan aku harus mengantar mereka ke sekolah.

Tahukah kamu? Kamulah surga duniaku. Anak-anak juga rindu. Rumah ini sekarang terlalu senyap dan sendu.

Namun, ternyata ada juga hal yang tidak kumengerti darimu. Sorot matamu yang kadang tampak kosong. Kamu yang kadang tercenung sendirian.

Lalu, nada-nada minor yang mencurigakan. Lirik-lirik kelam yang tak pernah kau selesaikan. (Aku mengecek tong sampah dekat pianomu.) Mimpi-mimpi buruk itu yang telah mencuri nyenyak tidurmu, bahkan meski dalam pelukku.

Sayang, hantu macam apa yang telah lama menggayuti benakmu? Kamu tidak pernah ingin aku tahu. Kadang kita bertengkar soal itu. Tak lama, kamu mulai sering membisu…

Hingga minggu lalu…

Entah kapan aku akan bisa mengerti. Cintaku, cinta anak-anak, musik, dan semua yang kita miliki di sini. Ternyata masih tidak cukup untuk mempertahankanmu, mencegahmu pergi.

Membangunkanmu dari tidur abadi yang ternyata telah kau kejar dan usahakan sendiri…

Banyak yang bersimpati, ada juga yang bertanya. Aku masih enggan bercerita. Mereka hanya tahu akulah yang menemukanmu.

Kini, wajahmu terpampang di mana-mana, namun dengan headline berita duka. Aku ingin marah, karena kamu tidak lagi ada. Kamu tega. Kini aku terluka dan merana. Kenapa? Kenapa, sayang? Kenapa kamu memilih mati daripada terus denganku dan anak-anak di sini? Kenapa? Mereka sangat sedih. Mereka bertanya apakah selama ini mereka membuatmu marah.

Kutatap piano itu, yang kini sama kesepiannya denganku. Tiada lagi nada-nadamu. Sunyi ini terasa abadi, simfoni yang beku.

Anak-anak sedang keluar rumah. Mereka tidak perlu tahu yang kini kulihat di cermin:

Seorang laki-laki yang patah hati, dengan air mata di pipi…

“Whatever happened to love, sweet love?

Did it fade away and die?”

(“Minetta Lane” – Tommy Page)

3

No Responses

Write a response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.