Gadis Senja

Gara-gara Keasyikan Bermain

“Billy, tangkap bolanya!”

Foto: Unsplash.com

Dengan tangkas aku melompat untuk menyambar bola kecil berwarna merah itu. Milly, adik perempuanku, tak mau kalah. Dengan kaki depannya yang lebih kecil, dia berusaha merebut bola itu dariku. Tentu saja dia malah terguling. Aku tertawa dan melepas bola itu.

“Dapat!” Gilly, kakak laki-laki kami yang bertubuh sedikit lebih besar, langsung menyambar bola itu. Aku langsung berlari mengejarnya, berusaha merebut bola itu kembali. Akhirnya, aku dan Gilly berguling-guling dan saling mencakar serta menggigit. Main-main tentunya, meskipun kadang serangan Gilly cukup menyakitkan.

“Aku bosan,” keluh Milly tiba-tiba. Dia duduk dan mulai menjilati bulu-bulunya yang terdiri dari tiga warna: hitam, putih, dan kuning kecoklatan. “Aku juga lapar.”

“Sama,” kata Gilly. Untunglah, pelayan kami yang selalu dipanggil Beno dan Maura tepat waktu. Tak lama, kami sama-sama mendengar suara merdu Maura dari dalam rumah:

“Billy … Gilly … Milly … “

Foto: Unsplash.com     

Gilly dan Milly langsung melesat ke dalam rumah tanpa henti. Namun, aku sendiri sebenarnya belum terlalu lapar. Tadi pagi, aku sempat makan agak terlalu banyak. Selain sarapan nasi dan ikan asin serta air putih, aku juga menyempatkan diri mencicipi seekor kupu-kupu kecil di taman.

Jadi, kuputuskan untuk bermain-main sendiri dengan bola merah itu di luar. Aku terus menyergapnya setiap kali bola itu bergerak menjauh …

… hingga tanpa sadar, aku pun ikut menjauh dari rumahku …

Saat bola merah itu jatuh ke dalam kubangan, aku kehilangan minat. Akhirnya aku berjalan-jalan sebentar. Namun, tiba-tiba baru kurasakan lapar di perutku. Aku berhenti dan melihat ke sekelilingku.

Foto: Unsplash.com

Aduh, aku di mana ini?

Aku mencoba mengendus-endus jejakku kembali ke rumah. Namun, sayangnya bau yang kutangkap tercampur-campur. Aku terus berjalan dan berjalan hingga akhirnya melihat pemandangan yang kuingat dan kukenal. Ah, akhirnya aku pulang juga. Tapi … eh, kok pagarnya ditutup, ya? Perasaan tadi masih dibuka lebar.

Aku pun melompat dan berusaha masuk lewat sela-sela pagar. Berhasil sih, namun tiba-tiba kudengar jeritan histeris seorang anak manusia:

“Mamaaa, tolooong! Ada kuciiing!”

Sebentar, sejak kapan Beno dan Maura punya anak manusia? Tapi anak kecil di depanku menangis ketakutan saat melihatku. Padahal, jarak kami masih jauh. Baru kali ini kulihat ada manusia yang takut padaku, meski jelas-jelas akulah yang badannya jauh lebih kecil daripada mereka.

Seorang perempuan keluar. Bukan Maura. Begitu melihatku, dia langsung melototi anak yang masih menangis ketakutan itu.

“Kamu apaan, sih?” tegur perempuan itu kesal. “Kucingnya nggak apa-apa, kok.”

“Tapi aku takuuut.”

Merasa tidak diterima, akhirnya aku berbalik dan melompat keluar.

Oke, sepertinya aku salah masuk rumah barusan. Perutku semakin lapar. Aku berjalan sambil menangis. Mungkin, suara tangisanku terdengar berbeda di telinga manusia, karena sesekali mereka yang lewat ada yang balas menggodaku:

“Miaw.”

“Miaw.”

“Miaww … “

“Miaww … “

Begitu terus. Saat ada anak manusia yang hendak memukulku tanpa alasan, aku langsung lari ketakutan. Tubuhku mulai lelah. Langit menggelap. Hujan rintik-rintik mulai turun. Aku harus mencari tempat berteduh …

Baru saja aku hendak berteduh di bawah pohon, ketika tiba-tiba seekor kucing dewasa berbulu abu-abu menghampiriku. Tadinya aku ketakutan dan mau kabur, namun dia menegurku:

“Heh, kamu yang namanya Billy, bukan?”

“Ya.” Aku mengangguk takut-takut. Kucing bermata hijau itu menatapku dengan sorot mata menyelidik.

“Kamu dicariin sama pelayanmu tadi,” kata si kucing abu-abu. “Dia ngomong sama kelinci, burung, dan kucing-kucing lain yang lewat. Salah satu kucing itu ngomong sama aku barusan.”

“Tapi … tapi aku tersesat … “ Aku sudah mau menangis lagi. Kucing dewasa itu akhirnya mengangguk paham.

“Oke, ikut aku, tapi yang cepat, ya.” Aku pun menurut. Meskipun agak kepayahan karena sudah kelelahan dan kelaparan, akhirnya kucing dewasa itu berhasil mengantarkanku kembali ke rumah Beno dan Maura. Benar saja, Maura langsung menggendongku begitu melihatku.

“Billy, kamu ke mana aja? Ya, ampun. Dicariin dari tadi. Untung kamu perginya nggak jauh.”

Aku ingin berterima kasih pada si kucing abu-abu, tapi dia sudah pergi. Hmm, mungkin sehabis makan sampai kenyang dan tidur sampai puas, aku akan mencarinya lagi untuk berterima kasih …

  • Selesai –

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.