Kategori: Senja Indonesia

fiksi dari Senja Indonesia – pria Indonesia

Fiksi – Sesalkah

Arghhhh… aku tidak bisa tidur lagi karena dia. Suara itu kembali hadir di tengah malam buta seperti sekarang ini, seperti biasanya. Gemerutuk gigi. Yup, itulah suara yang aku maksudkan. Setiap malam, pasti dia menggemerutukkan giginya tanpa dia sadari dalam tidurnya. Mengganggu diriku. Sebelumnya aku memang mencoba bersabar, tapi ini sudah …

[FF] Aku: Laki-laki

Flash Fiction lagi. Kali ini dalam rangka Tentang Kita Blog Tour yang diselenggarakan oleh Mbak Carra dan Stiletto Book. Deadline hari ini nih... baru buat hari ini juga. hahaha. bad habit. Diminta memilih 1 dari 17 judul yang ada dalam KumCer Tentang Kita. Ini FF saya.

FF – Tragedi TongSis

Gara-gara ikutan komen di FB group MFF, eh malah ditantang nulis dengan tema kritik sosial bergenre komedi. Huft berat juga. Flash Fiction itu ya.. bikin puyeng juga. Ah coba aja deh.

#FFRabu – Tanda Merah 

“Ini apa?” Tanya Ibu kepadaku. “Tanda apa ini Di?” Kulirik sekilas baju berwarna krem yang aku pakai semalam ke pesta ulang tahun Dimas. “Itu…” Jawabku agak tergagap. “Ayo. Jelaskan ke Ibu! Sekarang!” Aku memainkan ujung kemeja yang sedang kukenakan. Sesuatu yang biasa aku lakukan kalau takut seperti sekarang. “Itu lipstik …

[Fiksi] Hina

Kisah Hina yang dijadikan giveaway oleh saya ini saya lanjutkan dengan versi saya sendiri. Jika ingin membaca versi lengkap dari saya ya baca di sini, kalau ingin tahu pemenang giveawanya, monggo baca pengumumannya.

Kedua

Tak terasa sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Apakah dia akan kembali seperti dalam suratnya waktu itu? Di sini, aku masih menunggumu Damian. Tak ada kabar berita sejak dua bulan lalu membuatku khawatir. Apakah dia masih mencintaiku? Tuhan… jika memang diijinkan, biarkan aku bertemu dengannya sekali lagi, doa Mike …

Fiksi – Kuyakin

“Kamu yakin dek? Siap?” Ibu kembali bertanya padaku. Aku mengerti dia khawatir dengan keinginanku untuk mengikuti perlombaan itu, apalagi dengan kondisiku. Tapi aku dah yakin dan memantapkan hati sejak saat itu. Aku menganggukkan kepalaku tegas. Kupeluk ibuku yang masih memasang wajah cemasnya. Kueratkan pelukan seakan ingin mengatakan, yakinlah bu, aku …