Kategori: Senja Indonesia

fiksi dari Senja Indonesia – pria Indonesia

Lari

Lari... selamatkan dirimu, kak! Teriak Lukas. Andini terus berlari namun malang, dia tak melihat adanya pukulan itu.

#31 – Peluk

“Pa, besok boleh ya… aku mau jalan sama teman. Ke Bandung, ramai-ramai.” Papa yang sedang menonton tivi memalingkan wajahnya padaku. Wajahnya berubah. Ah… not a good time, batinku. Salah langkah ini mah namanya. “Nginep? Sama siapa?” Papa bertanya dengan nada pelan, belum ada tanda marah-marah dalam suaranya. “Iya pa. Nginep, rame-rame kok. …

Prompt #41: Siapa?

“Gila kamu!!!” Benard sudah tak tahan lagi mendengar kisah demi kisah yang diutarakan oleh Siska, gadis yang disukanya sejak masa kuliah dulu. Siska hanya diam sambil menggigit ujung sedotan frappucinno miliknya, sebuah kebiasaan yang justru membuat Benard semakin menyukainya. “Ya, mungkin aku gila, Ben. Tapi itulah kenyataannya. Aku jatuh cinta Ben. Benar-benar jatuh …

Prompt #40: Kukalahkan Kau!

Aku masih ingat kejadian dua bulan lalu. Kulihat orang itu mulai sedikit tenang saat petugas di sekitarnya memasangkan jaket dan tali pengaman di tubuhnya. Para temannya pun mulai bersorak saat orang itu mendekat tepian jembatan itu. Bungee jumping… olahraga nekat pemicu adrenalin katanya. Bagiku, itu adalah olahraga bodoh, hanya membahayakan …

Prompt #39: Bakso Cinta

Tepat pukul 5, Gadis sudah tiba di tempat tinggal saya. Saya pun mengajaknya ke dapur di mana saya sedang membuat adonan bakso. Segera Gadis belajar membuatnya. Membentuk adonan seperti hati.

Prompt #35: Aku, Dia dan Dia

Semilir angin kembali hadir, sama seperti setahun lalu, bersama dengan hangatnya mentari senja di ufuk barat sana. Seorang wanita bercelana jeans dan atasan sweater tipis berwarna jingga mendekat. Dia memelukku – melepaskan rindunya. “Setahun sudah…” bisiknya padaku. Dia kemudian duduk di sampingku dan mulai bercerita tentang kegiatannya selama setahun belakangan. …

Sang Mantan

Dia kembali menyeruput greentea frapucinno kesukaannya itu. Dan aku yakin kalau sebentar lagi dia akan menggigit ujung sedotan minuman itu, sama seperti dulu. “Kenapa?” tanyanya kepadaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku saja. Dia pun kembali asik dengan sedotan minuman itu. Minuman yang kubelikan dalam perjalanan menuju apartemennya ini. Apartemen yang diberikan …