Gadis Senja

Partikel Hantu

2019:

Sebelum tahun 2020, Partikel Hantu itu sesungguhnya sudah muncul. Di dataran Asia, awalnya dia mengemuka. Yang tersadar di kota tempat Partikel Hantu itu pertama kali ditemukan langsung bertindak. Akses keluar-masuk kota itu langsung ditutup.

Sayangnya, negara tempat kota itu berada terlanjur kecolongan. Beberapa penduduk yang sudah terjangkit oleh Partikel Hantu itu ada yang keburu keluar. Mungkin mereka tidak sadar. Mereka pikir mereka sakit pilek atau sesak napas biasa.

Hingga saat mereka mulai menulari yang lainnya dengan mudah. Bagai efek domino, jumlah penderita pun bertambah. Dalam sekejap, krisis global mendera. Negeriku juga kena.

Para petugas kesehatan berjibaku menangani jumlah penderita yang semakin banyak setiap hari. Dua shift, tiga shift … hingga nyaris tak sempat pulang. Ada yang sampai kelelahan, baik secara fisik maupun psikis – atau malah semuanya sekaligus.

Celakanya, petugas kesehatan juga yang paling rentan tertular oleh Partikel Hantu tersebut. Satu per satu pun tumbang, seiring bertambahnya jumlah pasien yang tertular di semua bangsal RS di negeri ini …

-//-

2020:

“Mama, aku bosan.”

Anak itu cemberut saat sarapan pagi. Tidak seperti biasanya, kali ini dia sangat merindukan sekolah. Dia kangen teman-temannya dan bermain di lapangan sekolah saat jam istirahat. Memang, anak itu masih bisa bertemu dengan mereka semua. Namun, kali ini rasanya jauh berbeda. Ada sekat pembatas yang jelas, meskipun sudah cukup terbantu dengan ruang virtual.

Wajah teman-teman sekelas dan gurunya hanya bisa dilihat lewat kamera web. Kadang ada anak yang bandel, enggan menyalakannya. Kadang ada juga yang kamera atau mikrofonnya bermasalah. Guru-guru entah kenapa ada juga yang jadi lebih cepat marah dan tidak seramah waktu di kelas biasa. Tidak sabaran dan tampak lelah.

Hanya itu yang bisa dia dapatkan. Selebihnya, dia hanya bisa berusaha untuk sabar. Hanya bisa bermain di halaman rumah. Menonton TV dan bermain online games sampai puas – atau malah bosan sekalian. Belajar lebih akur dengan kakak dan adik di rumah, karena masih sulit untuk bertemu teman-teman sebaya.

Apalagi, Mama juga cepat marah, sama seperti guru-guru di sekolah. Kecuali saat malam sebelum tidur, saat Mama membelai kepalanya dengan lembut sambil berucap: “Di rumah dulu ya, biar aman.”

-//-

“Aku kangen. Kapan ya, kita bisa ketemuan?”

“Belum tahu, sayang. Kata mereka, belum aman untuk traveling. Di mana-mana, jalanan banyak yang ditutup. Jumlah pasien bertambah. Yang udah meninggal juga banyak … “

Tampak di layar video pada gawai, tetes-tetes air mata perempuan itu jatuh. Lelaki itu langsung merasa trenyuh. Sayang, mereka belum bisa saling merengkuh.

“Sabar ya, sayang? Jangan lupa selalu jaga kesehatan. Keluar rumah seperlunya saja, ya?”

Hening. Keduanya kini hanya bertatapan dalam diam …

-//-

“Sudah! Pokoknya kita cerai saja-“

“Heh, terlalu mudah kamu ngomong gitu-“

“Apa lagi yang mau dipertahankan, Mas? Aku kira begitu lebih banyak di rumah, kamu bisa lihat sendiri kalau selama ini aku sudah sangat lelah. Aku kewalahan, Mas! Selama ini, aku butuh bantuan. Tapi kamu selalu beralasan kalau semua ini tugas perempuan. Hina rasanya kalau laki-laki ikutan. Kamu sendiri? Sejak belum dapat pekerjaan lagi, kamu malah lebih banyak rebahan, bukannya bantuin aku!”

-//-

Reaksi para lajang – terutama yang tinggal sendirian – juga beragam sejak adanya Partikel Hantu itu. Ada yang kesepian akut, karena tidak bisa sering-sering keluar rumah. Yang masih tinggal dengan keluarga mungkin masih mendingan. Tentu saja, dengan catatan bahwa keluarganya baik dan membuat mereka merasa nyaman. Pokoknya tidak abusive.

Ada yang (tetap) harus pergi bekerja, meskipun harus memakai masker sepanjang hari di luar rumah. Ada yang bisa bekerja purnawaktu dari kamar mereka. Ada yang setengah-setengah.

Yang kehilangan pekerjaan juga banyak. Jadilah banyak yang kemudian banting setir, rela mencoba alternatif apa saja. Yang penting ada kegiatan. Meskipun sedikit, yang penting masih ada penghasilan. Lupakan dulu gengsi dan sebangsanya.

Yang gengsi karena tidak siap dengan perubahan drastis ini mungkin akan depresi. Mereka akan mencak-mencak, karena merasa dunia tidak adil. Mereka bisa menjadi pelaku kekerasan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Ngeri.

Lalu, bagaimana denganku?

-//-

Aku adalah seorang pengamat yang akhir-akhir ini lebih banyak diam. Tanganku lebih banyak kupakai untuk menulis, nyaris tanpa lelah. Banyak sekali yang sebenarnya ingin kuceritakan. Terlalu banyak.

Sayang, lingkungan tak mendukung. Ada yang bilang, isi kepalaku terlalu ruwet. Aku anaknya tidak bisa santai, sehingga lebih sering dianggap tidak asyik. Terlalu serius dan baperan.

Omongan brengsek memang.

Awal pandemi karena Partikel Hantu ini, aku tidak banyak keluar rumah. Aku hanya keluar untuk berbelanja dua minggu sekali. Meskipun belum jago-jago amat, aku mulai lebih sering memasak.

Mama memintaku pulang, namun aku masih takut. Jadi, hanya sesekali aku menelepon beliau dan keluargaku yang lain di rumah.

Semua pekerjaanku praktis dialihkan menjadi online. Karena itulah aku mulai sering kembali membaca dan menulis. Tidak semua yang kutemukan di dunia maya, terutama media sosial, termasuk kategori layak baca, sih. Mungkin juga karena banyak yang terpaksa lebih banyak berdiam diri di rumah, tidak hanya aku. Aktivitas mereka di dunia maya pun menjadi lebih tinggi.

Selain berbelanja makanan, aku juga suka memberi makan kucing-kucing liar di jalanan. Bagiku, ini hiburan tersendiri. Apalagi, kucing-kucing yang sudah hapal denganku lama-lama menjadi jinak. Mereka tidak hanya mau dielus-elus. Ada yang sampai membuntutiku setiap kali kami bertemu di jalan. Lucu sih, bagi yang senang didekati kucing.

Makanya, aku selalu sedia setidaknya sebungkus makanan kering untuk para kucing jalanan saat keluar rumah.

Kadang aku juga bercakap-cakap dengan beberapa orang tetangga atau penghuni sekitar yang kukenal cukup baik. Mengapa hanya ‘kenal cukup baik’? Aku sudah hapal karakter manusia Indonesia pada umumnya. Sebagai orang luar, ada baiknya aku memberikan sedikit jarak. Jangan pernah bercerita terlalu banyak.

Maksudku, lihat. Saat ini saja, aku sudah cukup dianggap aneh oleh mereka. Mau apa seorang perempuan gemuk tinggal sendirian di kosan, meskipun keluarganya sendiri masih satu kota? Mana suaminya? Kenapa dia sendirian saja? Apa pekerjaannya? Kenapa sepertinya dia punya waktu luang yang cukup banyak untuk berkeliaran sesukanya?

Ah, sudahlah. Mungkin aku yang terlalu paranoid. Harap maklum, namanya juga hidup di Indonesia. Perempuan selalu lebih banyak disorot, mulai dari masalah status menikah hingga penampilan luar belaka – alih-alih kontribusi mereka di masyarakat.

Bahkan, yang makin bikin aku sedih, kontribusi perempuan di masyarakat banyak yang tidak berbayar. (Baca: kurang atau malah tidak dihargai!) Alasannya (terutama dari segi agama), dibayar pakai doa dan pahala dari Tuhan. Semakin banyak bila si perempuan beneran ikhlas, bahkan meskipun tidak dihargai dengan layak oleh sesama manusia sendiri.

Ini juga tetap terjadi, bahkan saat semua sudah tahu bahwa para suami ini sudah terlalu sering bersikap tidak adil. Boro-boro sadar diri ikut bantu-bantu pekerjaan rumah tangga, meskipun sedikit. Ini bahkan sedikit-sedikit maunya dilayani. Teriak-teriak seperti bocah bengal namun manja dan tak tahu diri. Lucunya, mereka masih minta dihormati, tanpa peduli istri mungkin sudah terlalu lama merasa lelah dan muak setengah mati.

Tenang. Aku tahu kok, tidak semua laki-laki sejahat dan seegois itu. Tidak perlu marah-marah dan tersinggung, karena aku bicara berdasarkan kenyataan. Salah satu laki-laki yang menurutku baik hati adalah pak tua penjual nasi goreng tek-tek di lingkungan tempatku ngekos. Semua orang memanggilnya Pak Haji.

Makanya, sejak pandemi Partikel Hantu tanpa henti ini, sebisa mungkin aku berusaha membeli nasi goreng dari beliau. Aku tahu, orang-orang seperti Pak Haji inilah yang paling dan langsung terdampak oleh efek pandemi. Dagangan mereka jadi makin sepi pembeli. Banyak yang takut keluar rumah dan memilih memasak sendiri. Yang punya gawai dan dana lebih mengandalkan jasa delivery.

Oke, aku memang kasihan sama pedagang kecil seperti Pak Haji. Tapi, aku juga tersentuh oleh kebaikan beliau. Pernah beberapa kali papasan di pasar, kulihat beliau tak pernah segan membantu membawakan belanjaan dari tangan istrinya. Berbeda dengan banyak lelaki lain yang entah kenapa malah gengsi, melenggang pergi tanpa peduli istrinya kewalahan di belakang mereka. Padahal, yang dibelanjakan istri juga akan mereka makan, bukan?

Pernah juga saat berdagang, Pak Haji ditemani putera semata wayangnya yang masih berusia enam tahun. Sementara bocah itu sibuk bermain online game di gawai, Pak Haji hanya tersenyum sekilas padanya sebelum berpaling padaku dan menjelaskan:

“Sengaja saya ajak ikut saya dulu, biar ibunya beristirahat di rumah.”

Aku hanya tersenyum sambil makan nasi goreng buatannya.

Lalu, apa pendapat Pak Haji mengenai Partikel Hantu? Satu malam, akhirnya beliau jujur berpendapat padaku:

“Kalau saya mah, pasrah aja.” Meskipun memakai masker, beliau tidak tampak khawatir. Akulah sendiri juga bermasker dan memilih duduk agak jauh dari beliau. “Kalau memang sudah takdirnya, ya sudah.”

Sama seperti perasaan kebanyakan penduduk negeri ini, meskipun tidak separah mereka. Banyak penduduk negeri ini yang justru tidak pedulian, maunya suka-suka mereka. Ada juga yang dengan entengnya beranggapan bahwa Partikel Hantu ini konspirasi global belaka.

Jangan salah. Masih banyak juga yang waras dan cari aman. Akulah salah satunya. Aku bukan salah satu manusia itu, yang berlagak jagoan dan mengaku tidak takut mati.

Masih banyak yang ingin kulakukan di dunia ini …

-//-

Tak lama kemudian, aku bermimpi aneh pada satu malam. Aku pulang malam ke kosanku dengan sekantung belanjaan. Sejak pandemi, jalanan sepi seperti biasa.

Saat berbelok ke satu gang menuju kosanku, langkahku terhenti. Aku terkejut melihat Pak Haji tidak sedang sendiri. Ada seorang laki-laki lain yang sedang mengobrol dengannya.

Aku tidak mengenal laki-laki itu dan belum pernah melihatnya di daerah perumahan ini. Semula, kukira dia hanyalah salah satu pelanggan Pak Haji. Meskipun tampak sangat muda dan tampan pula, dengan rambut hitam legam, wajah pucat, dan kulit mulus tanpa cela, ada yang terasa janggal bagiku dari laki-laki misterius itu.

Kulitnya tidak hanya pucat, tapi juga … mulai bersinar. Semakin terang, sehingga mulai menyilaukan. Aku sampai harus memicingkan mata karena kontrasnya sinar dari tubuh laki-laki itu dengan gelapnya malam.

Pak Haji menatap laki-laki itu seperti terhipnotis. Anehnya, wajah beliau tampak tenang sekali – bahkan seperti tersenyum pasrah.

Lalu, sesuatu yang makin mengejutkan terjadi. Saat laki-laki itu menepuk bahunya, Pak Haji tahu-tahu terjatuh. Kulihat mata beliau masih terbuka lebar, meski tidak tampak membelalak. Hanya menyorot kosong, serta seluruh tubuhnya tidak bergerak lagi.

Sekujur tubuhku langsung lemas, sehingga kantung belanjaan terjatuh dari genggamanku. Ada rasa takjub yang ngeri dan membekukan, meskipun jantungku masih berdentam-dentam tak keruan di dalam.

Siapakah laki-laki yang bersinar-sinar itu? Seperti merasa tahu tengah diamati, laki-laki itu menoleh dan langsung menatap tajam mataku. Sepertinya dia juga tahu aku langsung sesak napas oleh rasa gentar, karena detik berikutnya dia langsung tersenyum lebar. Meskipun masih tampak tampan, ada sorot dingin dan kosong di mata itu.

Kurasakan tubuhku semakin menggigil, kali ini karena rasa takut yang dingin entah dari mana. Ingin rasanya segera berlari, namun kedua kakiku seakan tersemen langsung ke jalanan beraspal yang sedang kupijak. Apakah laki-laki itu akan menghampiriku, lalu menyentuhku sehingga aku bernasib seperti Pak Haji – tiba-tiba mati?

Seakan membaca pikiranku, laki-laki itu tidak jadi menghampiri. Tubuhnya masih bersinar-sinar menyilaukan, menakjubkan sekaligus menakutkan. Masih dengan senyum ramah sekaligus sorot mata dingin dan kosong itu, tiba-tiba dia berkata padaku:

“Tenang, belum giliranmu. Bukan aku yang nanti akan menjemputmu … “

-//-

Aku terbangun dari mimpi itu dengan keringat dingin di sekujur tubuhku …

Dua minggu sesudah mimpi itu, kudengar kabar bahwa Pak Haji telah meninggal dunia. Kabarnya, Partikel Hantu itu telah mengambil nyawanya juga.

Aku tak bisa berkata-kata …

-//-

2021:

Dan Partikel Hantu ini pun beranak-pinak …

Itulah yang kubaca di berita akhir-akhir ini, setahun sesudah kehadiran Partikel Hantu. Pertengahan tahun ini, aku baru saja selesai mencuci semua masker kain yang kumiliki. Aku juga telah membeli satu set masker medis, satu set sarung tangan medis, dan satu face-shield.

Aku juga punya cukup banyak hand sanitizer.

Sebenarnya aku ingin menulis lanjutan kisah ini, namun sayangnya belum berakhir. Aku juga sudah terlalu lelah. Mungkin Partikel Hantu telah merasukiku juga tanpa kusadari.

Apakah giliranku kali ini? Duh, padahal aku sudah berhati-hati sekali, sebisa mungkin jarang keluar rumah, rajin cuci tangan, dan tidak mau didekati siapa pun di sini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.