Dari Kami Tentang Kamu… Yeah… KAMU!!!

Aku bertemu dengannya sore itu. Dia juga sama sepertiku, chubby. Bedanya, aku tomboi dan dia lebih modis. Bergaun hitam dipadu jaket kulit hitam dan sandal model gladiator yang juga hitam. Lipstiknya merah menyala. Kacamatanya pun berbingkai hitam. Dia memakai cincin dan kalung perak.

Kuakui, dia tampak cantik dan ceria. Namun, sebelum bercerita tentangnya lebih lanjut, mungkin aku harus mulai dari awal.

Sudah lama aku menantikan acara puisi Sabtu sore itu. Seperti acara-acara klub sastra lainnya, setiap hadirin yang sudah mendaftar berhak naik ke panggung dan membacakan puisi karya masing-masing.

Singkat cerita, aku membaca puisi tentangmu. Bukan puisi yang menyenangkan, mengingat yang pernah kau coba lakukan padaku dulu. Hadirin terharu. Banyak yang simpati, meski ada juga yang cenderung menghakimi. Tapi…ah, sudahlah. Namanya juga risiko berpuisi. Bebas interpretasi.

Setelah itu, aku sempat bercakap-cakap dengan beberapa wajah yang kukenal maupun wajah baru. Salah satunya dia, yang dengan pedenya langsung menggamit lenganku.

“Kayaknya mukamu familiar, deh.”

Aku berhenti dan menatapnya dengan bingung. Entah apa yang harus kukatakan. Rasanya, aku tidak sepopuler itu. Mungkin ada yang mukanya memang rada mirip denganku. Aku juga tidak ingat pernah bertemu dengannya sebelum sore itu.

“Kamu kenal **** *******?”

dari kami untukmu - fiksi perjalanan senja

Aku bahkan enggan menulis namamu di sini, apalagi sampai mengingatnya. Dasar sial, aku memang tidak mudah lupa. Kadang aku membenci kemampuanku mengingat sejarah ‘nggak enak’ dengan mudah.

“Eng…iya.” Aku bukan orang yang suka berbohong. Nggak ada gunanya juga. Kalau pun melakukannya, aku akan selalu dihantui rasa bersalah.

“Aku pernah lihat komenmu di status FB-nya,” katanya. Senyumnya membuat wajah bundarnya makin ceria. “Tahu ‘kan, kalo gak semua yang dia kenal temenan ama dia di FB?”

“Tahu.” Aku bahkan sudah lama me-remove namamu dari daftar teman FB-ku. Semua gara-gara komen nyinyirmu suatu waktu, yang justru malah membuat temanku naik pitam dan membelaku. Kalian berdua nyaris ribut di lamanku, seperti dua orang ribut di depan halaman rumahku kalau di dunia nyata.

Aku malu. Banyak teman yang bertanya-tanya dan protes. Sahabat yang juga seperti abangku sampai memberi ultimatum:

Remove dia sekarang! Kamu juga sih, yang ngebiarin dia berlaku kayak gini sama kamu.”

Aku tahu. Seharusnya, kututup semua aksesmu untuk kembali mendekatiku, tidak hanya jalur FB. Kamu bahkan masih punya nomor ponselku dan belum kublokir nomormu. Bukannya masih ingin mempertahankanmu, meski mereka pasti tidak akan percaya.

Aku tidak peduli dan terlalu malas. Toh, selama ini kamu memang jarang sekali menghubungiku, kecuali kalau sedang mau atau kebetulan berada di kota yang sama. Sisanya? Kita lebih banyak sibuk sendiri dengan urusan masing-masing. Baguslah kalau begitu.

“Aku mantannya.” Suaranya kembali menyadarkanku pada realita sore itu. Ajaib, bagaimana waktu di alam pikiran bisa lebih cepat dan mengeluarkan begitu banyak ingatan?

“Oh.”

“Yeah, I dated him a while,” lanjutnya. Heran, kenapa dia begitu ceria? “Dia emang aneh sih, tapi sebenernya baik, kok.”

Glek. Entah seperti apa rupaku saat itu. Aneh? Iya. Baik? Hmm…

Apakah dia sempat mendengarkan puisiku tadi? Sadarkah dia itu mungkin tentangmu? Diam-diam aku ngeri memikirkan kemungkinan dia akan memberitahumu. Apalagi dari caranya menceritakanmu.

Sepertinya dia masih mencintaimu.

Aku hanya bisa nyengir. Untunglah, seseorang kemudian mengalihkan perhatiannya. Buru-buru aku menyelinap pergi, berusaha menyatu dengan kerumunan di kafe.

Aku pulang cepat Sabtu itu. Malas berlama-lama di sana, terutama mendengarnya terus bercerita tentangmu…

-***-

Malam itu, aku berusaha keras mengenyahkanmu dari benakku.

Entahlah, mungkin memang cukup banyak hal baik tentangmu yang masih cukup berharga untuk kuingat-ingat. Kamu suka membukakan pintu untukku layaknya seorang gentleman.Menarik kursi untukku. Membayar semua pesananku. Mengantarku pulang – atau minimal menungguiku hingga taksi atau ojek online pesananku tiba, selarut apa pun itu.

Membuatku merasa cantik. Mencium punggung tanganku seperti laku pangeran di negeri dongeng. Memelukku.

Menciumku. Memagut bibirku, sementara tanganmu berusaha…

Kuhentikan ingatan gila itu. Amarahku memuncak.

Ya, lalu kau merusak semuanya dengan niat itu. Kau mulai memaksaku untuk tidur denganmu. Menurutmu, aku terlalu kuno dan kaku…

Kutarik napas perlahan untuk menenangkan diriku. Ya, aku bersyukur sekali dengan kebebasan ini. Lega benar rasanya.

Mungkin dia menganggapmu baik, karena tidak keberatan memberikan ‘segala’-nya untukmu. Tapi itu bukan aku.

Namun, aku tidak akan merasa lebih baik darinya atau perempuan mana pun yang begitu…terutama sama kamu. Aku ya, aku. Ini hanya masalah pilihan.

 

17

No Responses

Write a response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.