Senja Indonesia

#24 – Bangkit

‘Jadi…’ Rio menegakkan badannya dan memandangku tajam. ‘Jadi… Kamu masih?’

Aku menundukkan kepalaku menghindari tatapannya yang serta merta membuatku merinding itu. Dan juga sebenarnya aku enggan membahas hal yang ditanyakannya itu.

‘Hei…. I’m talking to you. Look at me please.’ Ujar Rio. ‘Why are you still in that place?’

Aku menggelengkan kepalaku dan terdiam.

Rio hanya diam menatapku. Dia, orator kenamaan di kampus ini, seperti kehabisan kata-kata menghadapiku. Kini keheningan mengisi jarak di antara kami di antara puluhan gelak tawa anak-anak kampus yang sedang makan di kantin di sekitar kami.

Pikiranku melayang ke beberapa minggu lalu, saat aku dan sosok yang dipertanyakan Rio sedang duduk berhadapan di cafe berlogo wanita putih dengan background hijau itu.

***

Green tea frappucinno with read bean yang manis tak mampu menggantikan rasa asin air mataku yang masuk ke dalam mulutku.

‘Please… Please jangan menangis.’ Ujar sosok tegap berkemeja biru langit muda itu seraya menyodorkan tissue kepadaku. Aku mengambilnya tanpa menatap pria itu.

‘Kamu tahu aku paling tak tahan melihat orang menangis. Apalagi jika orang itu adalah orang yang kusayangi.’ Ucapnya pelan berusaha menyentuh pipiku yang basah dengan tangannya.

Aku menepis segera tangannya. Rasanya jijik disentuh oleh tangan dari orang yang baru saja membuat hatiku menangis.

‘Jangan kamu bilang sayang. Jelas kamu gak mengerti apa itu sayang. Kalau kamu sayang, gak pernah kamu lakukan ini padaku.’ Jawabku seraya menghapus air mata dari pipiku. Cukup rasanya.

‘Aku benar-benar sa…..’ Ucapnya yang segera kupotong.

‘Apa? Sayang sama aku?’ Tanyaku. ‘Katakan padaku. Sayangmu padaku apakah sama dengan sayangmu padanya? Dia yang ada dalam pelukanmu kemarin?’

Pria itu pun terdiam. Dia tak berani lagi mengatakan apapun ataupun mendekatiku.

‘Yah.. Aku kan berhenti menangis, Josh. Tapi bukan karenamu. Melainkan untukku. Kamu gak pantas mendapatkan tangisku, setelah apa yang kamu lakukan padaku. Terima kasih.’ Aku segera mengambil tasku dan berdiri dari kursiku.

Kulepaskan cincin di jari manisku dan melemparkannya ke wajah Josh, pria yang dari tadi duduk di hadapanku.

‘Berikan saja kepadanya. Aku tak butuh.’ Aku segera melangkah meninggalkan cafe itu.

***

tanda merah

‘Mau sampai kapan?????’ Pertanyaan Rio itu menyadarkan diriku dari kenangan yang telah kucoba kukubur dalam-dalam beberapa minggu ini, namun tak bisa.

‘Kamu mau seperti ini terus sampai kapan?’ Rio menggenggam tanganku kini. ‘Kamu harus bangkit. Move on! Gak perlu pikirin si brengsek itu.’

Aku kembali terdiam.

‘Aku bingung….. Aku sudah coba Rio. Tapi, masih gak bisa.’

‘Gak bisa atau gak mau?’ Rio melepaskan genggamannya yang meninggalkan kehangatan di jemariku.

‘Gak tahu…..’

Rio menghela nafas perlahan. ‘Kamu bertahan untuk dia? Dia yang menduakanmu dengan sahabatmu sendiri?’

Rio memang benar. Josh telah menduakanku. Mengingkari janji di atas cincin pertunangan kami dengan sahabatku. Aku marah karenanya. Tapi entah kenapa masih saja aku…

‘Nad,….’ Aku mengangkat kepalaku menatap Rio yang kini menatapku lekat kembali seperti sebelumnya.

‘Nadia Kusumawardani, lupakan dia. Bangkit dari keterpurukanmu ini dan jadilah Nadia yang kukenal! Jangan biarkan si bangsat itu menghancurkanmu.’

‘Buat apa juga kamu bertahan seperti ini. Hanya membuat dia dan Martin bahagia mentertawakanmu. Karena mereka bisa membuatmu hancur.’

Nama Martin membuatku kembali teringat saat kutemukan Josh sedang tidur memeluk orang itu di kamarnya. Aku bukanlah gadis bodoh yang tak mengerti apa yang baru terjadi di kamar itu. Pakaian yang berserakan dan kondisi Josh dan Martin yang tak berpakaian cukup menjelaskan semuanya.

‘Bangkit Nad… Kamu itu berharga. Kamu itu sangat berharga. Kedua bajingan itu gak pantas untuk ini. Ayolah Nad. Balas mereka. Tunjukkan kamu baik-baik saja walaupun mereka telah menyakitimu.’ Rio kembali menggenggam tanganku. ‘Dan aku kan selalu mendampingimu untuk bangkit.’

Ryan
200513 2049

14 Comments

  1. yuniwinn 21 Mei 2013
    • ryan 21 Mei 2013
  2. araaminoe 21 Mei 2013
    • ryan 21 Mei 2013
  3. cumakatakata 21 Mei 2013
    • ryan 21 Mei 2013
  4. Wong Cilik 21 Mei 2013
    • ryan 21 Mei 2013
  5. tinsyam 21 Mei 2013
    • ryan 21 Mei 2013
  6. junioranger 22 Mei 2013
    • ryan 22 Mei 2013
  7. junioranger 22 Mei 2013
    • ryan 22 Mei 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.