Senja Indonesia

Prompt: #20 – Kau Lelakiku

Kami berdua kini hanya terdiam. Gelas berisikan cappuccino pilihanku tinggal separuh. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan.

“Jadi… kamu sudah pasti? Tidak mungkin membatalkannya?” lelaki berkacamata bernama Mike itu kembali bertanya kepadaku.

Aku pun menganggukkan kepalaku kembali.

“Perkataanku sekali pun takkan dapat merubah keputusanmu kan?”

Aku menganggukkan kepalaku dan memainkan gelas cappucinnoku.

“Jadi untuk apa pertemuan ini?” Mike memperbaiki posisi duduknya, tegak menatapku.

***

“Makasih ya. Kamu masih mau mengantarku. Kupikir kamu marah karena pertemuan malam itu.” Mike hanya tersenyum.

“Aku tak mungkin marah kepadamu. Apapun yang kamu lakukan.” Dia memelukku erat dan kemudian mencium keningku. “Hati-hatilah kamu di sana. Kabari aku begitu pesawatmu mendarat.”

Aku pun menganggukkan kepalaku. “Iya. Aku akan hati-hati di sana sayang. Tunggulah aku, aku kan kembali.”

“Aku kan menunggu. Sampai kapanpun.”

Kuserahkan surat yang telah kusiapkan semalam.

“Bacanya nanti kalau aku sudah berangkat.”

Prompt: #20 - Kau Lelakiku 2

***

Kau tahu… pertama kali bertemu denganmu, dua tahun lalu, tak tahu apa yang kurasakan. Kau katakan cinta padaku, tapi aku belum mengerti apa itu cinta. Tapi kau memaksaku menjadi kekasihmu. Dan aku pun tak tega melihat matamu yang teduh itu terluka. Aku pun mengiyakannya.

Dua tahun adalah waktu yang cukup, lebih bahkan untuk mengetahui perasaanku kini. Jika kau tanya padaku saat ini, detik ini, akan kuucapkan dengan lantang: ‘aku mencintaimu sepenuh jiwa dan ragaku.’ Mungkin agak lama, tapi aku kini mengerti cinta karenamu, karena ucapanmu, tindakanku yang selalu mengejutkan diriku.

Terima kasih sayang, karena kau mengajarkanku cinta. Memang kini aku harus pergi, tapi aku kan kembali. Aku tak ingin membelenggumu dan memintamu menunggu selamanya. Tapi aku berharap kamu bersedia menungguku. Aku kan kembali. Hanya untukmu.

Your love,

Damian.

Word: 274

Tulisan pertama dari saya untuk Monday Flash Fiction

73 Comments

  1. cumiitem 13 Juli 2013
    • Ryan 13 Juli 2013
  2. kebomandi 13 Juli 2013
    • Ryan 13 Juli 2013
      • kebomandi 13 Juli 2013
  3. araaminoe 13 Juli 2013
  4. noe 13 Juli 2013
    • Ryan 13 Juli 2013
      • noe 13 Juli 2013
        • Ryan 13 Juli 2013
          • noe 13 Juli 2013
          • Ryan 13 Juli 2013
        • Masya 14 Juli 2013
          • Ryan 14 Juli 2013
          • noe 14 Juli 2013
          • Masya 15 Juli 2013
          • Ryan 15 Juli 2013
          • noe 15 Juli 2013
          • Ryan 15 Juli 2013
          • Masya 15 Juli 2013
          • Ryan 15 Juli 2013
          • Masya 15 Juli 2013
          • Ryan 15 Juli 2013
          • noe 15 Juli 2013
          • Ryan 15 Juli 2013
          • noe 15 Juli 2013
          • Ryan 15 Juli 2013
  5. rahmattrans 13 Juli 2013
    • Ryan 13 Juli 2013
  6. 空キセノ 13 Juli 2013
    • Ryan 13 Juli 2013
  7. fatwaningrum 13 Juli 2013
    • Ryan 13 Juli 2013
  8. duniaely 13 Juli 2013
    • Ryan 14 Juli 2013
  9. Rika Halida 14 Juli 2013
  10. ronal 14 Juli 2013
  11. cumakatakata 14 Juli 2013
    • Ryan 14 Juli 2013
      • cumakatakata 15 Juli 2013
  12. tinsyam 14 Juli 2013
    • Ryan 15 Juli 2013
      • tinsyam 15 Juli 2013
        • Ryan 15 Juli 2013
          • tinsyam 15 Juli 2013
          • Ryan 15 Juli 2013
  13. jampang 14 Juli 2013
    • Ryan 15 Juli 2013
      • jampang 15 Juli 2013
  14. lianadaisha 15 Juli 2013
  15. 'Ne 15 Juli 2013
  16. istiadzah 16 Juli 2013
    • Ryan 16 Juli 2013
  17. Latree 16 Juli 2013
    • Ryan 16 Juli 2013
  18. carra 16 Juli 2013
  19. Pingback: Kedua | The Foot Steps... 27 Januari 2015
  20. Fieni Yuniarti 27 Januari 2015
    • Ryan 27 Januari 2015
      • Fieni Yuniarti 27 Januari 2015
        • Ryan 27 Januari 2015
      • Fieni Yuniarti 27 Januari 2015
        • Ryan 27 Januari 2015

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.