Tag: MFF

#FFRabu – Tanda Merah 

“Ini apa?” Tanya Ibu kepadaku. “Tanda apa ini Di?” Kulirik sekilas baju berwarna krem yang aku pakai semalam ke pesta ulang tahun Dimas. “Itu…” Jawabku agak tergagap. “Ayo. Jelaskan ke Ibu! Sekarang!” Aku memainkan ujung kemeja yang sedang kukenakan. Sesuatu yang biasa aku lakukan kalau takut seperti sekarang. “Itu lipstik …

Kedua

Tak terasa sudah dua tahun berlalu sejak saat itu. Apakah dia akan kembali seperti dalam suratnya waktu itu? Di sini, aku masih menunggumu Damian. Tak ada kabar berita sejak dua bulan lalu membuatku khawatir. Apakah dia masih mencintaiku? Tuhan… jika memang diijinkan, biarkan aku bertemu dengannya sekali lagi, doa Mike …

Lier

I'm gonna swing from the chandelier, from the chandelier I'm gonna live like tomorrow doesn't exist fiksi tentang...

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Jalanan basah masih terlihat olehku dari sudut warung kopi ini. Di seberang sana sebuah toko dengan beragam kerajinan tangan tampak lengang pembeli. Kuambil lagi sepotong pisang goreng hangat yang dihidangkan pemilik warung.

Prompt #41: Siapa?

“Gila kamu!!!” Benard sudah tak tahan lagi mendengar kisah demi kisah yang diutarakan oleh Siska, gadis yang disukanya sejak masa kuliah dulu. Siska hanya diam sambil menggigit ujung sedotan frappucinno miliknya, sebuah kebiasaan yang justru membuat Benard semakin menyukainya. “Ya, mungkin aku gila, Ben. Tapi itulah kenyataannya. Aku jatuh cinta Ben. Benar-benar jatuh …

Prompt #40: Kukalahkan Kau!

Aku masih ingat kejadian dua bulan lalu. Kulihat orang itu mulai sedikit tenang saat petugas di sekitarnya memasangkan jaket dan tali pengaman di tubuhnya. Para temannya pun mulai bersorak saat orang itu mendekat tepian jembatan itu. Bungee jumping… olahraga nekat pemicu adrenalin katanya. Bagiku, itu adalah olahraga bodoh, hanya membahayakan …

Prompt #39: Bakso Cinta

Tepat pukul 5, Gadis sudah tiba di tempat tinggal saya. Saya pun mengajaknya ke dapur di mana saya sedang membuat adonan bakso. Segera Gadis belajar membuatnya. Membentuk adonan seperti hati.

Prompt: #20 – Kau Lelakiku

Kami berdua kini hanya terdiam. Gelas berisikan cappuccino pilihanku tinggal separuh. Setelah jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali tegukan. “Jadi… kamu sudah pasti? Tidak mungkin membatalkannya?” lelaki berkacamata bernama Mike itu kembali bertanya kepadaku. Aku pun menganggukkan kepalaku kembali. “Perkataanku sekali pun takkan dapat merubah …