Gadis Senja

Kelly dan Kyra

“Kelly, jaga adikmu, ya.”

“Iya, Mama.” Aku melompat-lompat dengan gembira, mengejar-ngejar Kyra yang sudah beberapa langkah di depanku. Kami sedang bermain riang di hutan. Melompat, melesat melewati pohon-pohon.

Dunia kecil kami terasa indah. Di udara terbuka yang segar, kami bermain dan tertawa. Kami tidur dan makan.

Koko dan Keisha (Foto: Unsplash.com)

Kadang kami juga bermain dengan Koko dan Keisha. Sayangnya, mereka lebih senang bergelantungan di atas pohon, memeluk batang atau dahan erat-erat. Kurang asyik untuk main kejar-kejaran.

Makanya, aku dan Kyra lebih sering hanya menyapa Koko dan Keisha dari bawah pohon. Meskipun pendek dan cenderung gempal serta lamban, kuku-kuku mereka sangat panjang. Aku dan Kyra tidak bisa memanjat pohon dan berada di atas cukup lama seperti mereka.

Rasanya aku ingin kehidupan kami terus berjalan seperti ini. Damai, indah, dan aman selalu…

-***-

Sayangnya tidak.

Kebakaran hutan (Foto: Unsplash.com)

Hanya samar-samar yang bisa kuingat saat itu. Aku terbangun karena batuk-batuk. Di sampingku, Kyra yang juga terbatuk-batuk mulai menangis ketakutan. Mama berdiri dan mondar-mandir, tampak gelisah. Matanya melebar.

“Mama!” tangis Kyra, yang kemudian langsung melompat masuk ke dalam kantong Mama. Aku terlambat. Tubuhku sedikit lebih besar dari Kyra. Pastilah tidak akan muat.

“Kelly, ayo lari!” perintah Mama, yang membiarkan Kyra bersembunyi ketakutan di dalam kantong Mama. Aku menurut. Bersama Mama, aku melompat-lompat dan berlari-lari. Kami berusaha menjauhi sumber panas dengan asap tebal yang terus mengepul.

Sumber panas itu mengerikan. Warnanya merah menyala dan berpendar-pendar. Semakin lama membesar dan melebar. Cepat sekali. Panasnya semakin dekat…dan asapnya menebal dan semakin banyak.

Aku takut. Tahu-tahu sumber panas itu mulai mengelilingi kami. Tangis Kyra semakin keras. Anehnya, Mama malah menyuruhnya keluar dari kantong.

“Nggak mau, Mama!” tolak Kyra histeris. Adikku meronta-ronta saat Mama memaksanya keluar dari kantong. “Aku takut!”

“Maaf, Kyra,” kata Mama. Lalu, Mama berpaling padaku. “Kelly, apa pun yang terjadi, jaga adikmu. Jangan sampai lepas!”

Aku tertegun. “Tapi, Ma-“

“Jangan membantah!” perintah Mama sambil mendorong Kyra ke arahku. Aku langsung menangkap adikku yang masih menangis. “Lari. Cepat, pergi dari sini!”

Secara refleks, aku menurut. Berdua kami melompat-lompat dan berlari, berusaha mencari jalan keluar dari hutan yang terasa semakin panas membara.

Apakah Mama menyusul kami? Sesekali aku menengok ke belakang. Aku tidak melihat Mama. Yang kulihat hanya pohon-pohon terbakar, asap tebal. Kudengar banyak penghuni hutan lain yang berlarian dan memekik ketakutan.

Apakah mereka terluka? Termasuk Koko dan Keisha?

Tiba-tiba Kyra memekik ngeri. Sebatang pohon yang terbakar tumbang di depan kami. Aku ikut menjerit dan kami berdua pun melompat mundur. Kyra langsung memelukku dan kembali menangis.

“Kelly, aku takut!”

Aku balas memeluk erat adikku. Berdua kami terbatuk-batuk. Napas kami mulai sesak.

Pandanganku mengabur…

Mama, maafkan aku. Aku sudah berusaha menjaga Kyra…

-***-

Kukira aku sudah mati. Saat terbangun, aku sudah berbaring. Sesuatu menutupi moncongku, mengembuskan udara segar. Rasanya tidak lagi sesak, meskipun tenggorokanku masih terasa panas dan kering.

Kulihat banyak manusia mondar-mandir di depanku. Ada sesuatu yang membungkus kedua kakiku. Warnanya hijau. Namun, entah kenapa, kaki terasa panas dan pedih sekali. Aku menangis.

Tiba-tiba kudengar Kyra memekik di sampingku. Aku menoleh dan melihatnya berbaring. Kedua kakinya juga dibungkus dan dia sedang menangis.

“Kyra!”

“Kelly, aku takut!” Adikku langsung memelukku erat-erat. Aku balas memeluknya. “Mama mana?”

“Entahlah.” Aku sendiri juga takut. Para manusia itu merubungi kami. Ada yang mencoba menyentuhku dengan hati-hati dan nada membujuk. Aku memeluk Kyra semakin erat, berusaha mencegah tangan-tangan bersarung itu mencoba menyentuhnya juga.

“Pelan-pelan…kayaknya mereka masih takut…”

“Kayaknya mereka berdua kakak-adik, deh…”

“Sini…sini…”

Aku terus mempererat pelukanku akan Kyra, sementara adikku membenamkan wajahnya di bahuku. Ingin kukatakan pada mereka semua:

Tolong…jangan sakiti kami…

-***-

Kelly dan Kyra (Foto: Unsplash.com)

Butuh waktu lama bagiku dan Kyra untuk mulai mempercayai mereka. Manusia-manusia itu baik. Mereka memberi kami makan, mengobati luka bakar di kaki kami, dan membantu membersihkan kami. Mereka bahkan memberikan Kyra mainan untuk dipeluk.

Sayangnya, kami belum bisa kembali ke hutan kami. Kami juga tidak tahu nasib Mama dan teman-teman kami, seperti Koko dan Keisha.

Kami hanya tahu tempat tinggal kami telah terbakar habis…

Kisah fiksi ini ditulis untuk mengenang tragedi kebakaran hutan di Australia pada awal tahun 2020 ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.