Gadis Senja

Jejak Digitalmu di Media Sosial, Wahai Mantan Sahabat

“Kita akan bersahabat selamanya.”

Itu janji kita dulu, sebelum banyak drama itu. Meski lebih tua dariku, sayangnya jelas-jelas kaulah yang lebih gemar membuat drama di social media. Kesal sedikit, curhat panjang lebar di Facebook. Berantem atau sedang marah dengan si A atau B, langsung nyinyir di Twitter. Merasa dicuekin, cuap-cuap di Line.

Makanya, sewaktu Path sempat populer, kudiamkan saja invite darimu. Bukan apa-apa, aku butuh space dari semua aura negatifmu. Facebook-mu saja sudah lama ku-unfollow. Twitter-mu aku mute per 100 hari. Serius. Bahkan, aku tidak perlu melihat isi Line-mu. Untuk apa? Masih banyak kegiatan lain yang lebih penting daripada itu.

Lalu, bagaimana dengan IG-mu? Semula, aku cukup senang follow IG-mu. Foto-fotomu saat traveling, terutama saat jalan-jalan ke luar negeri benar-benar keren. Wisata kuliner yang kamu lakukan ke sana kemari juga sangat menggugah selera.

Hingga akhirnya…

Aduh, meme-meme penuh sindiran itu lagi. Kamu sebenarnya sedang marah sama siapa, sih? Meski penasaran, aku enggan langsung bertanya. Untuk apa? Dulu kau pernah sering curhat. Ada masanya aku bersabar jadi pendengar.

Namun, lama-lama aku lelah. Bahkan, aku muak. Mungkin, bagimu aku bukan sahabat pengertian. Maaf ya, aku juga bukan terapis gratisan. Tahukah kamu, lelahnya mendengar curhatan orang yang selalu merasa dimusuhi seluruh dunia? Selalu curiga, selalu penuh iri hati dan dengki. Selalu menghakimi, tapi selalu ingin dipahami.

Bahkan, aku sudah tidak begitu kaget saat beberapa kali kita bertengkar. Aku ingat kamu pernah bercerita padaku mengenai orang-orang yang kau benci. Kau menjelek-jelekkan mereka setengah mati, berharap aku akan mengerti. Bersemangat sekali. Bahkan, sepertinya kau berharap aku juga tidak akan berteman dengan mereka lagi.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengetahuinya. Akhirnya, aku pun mendapatkan perlakuan serupa. Setiap kali kita bertengkar, nasibku sama. Aku tidak perlu tahu kau sudah pernah menggunjingkanku kepada siapa saja di luar sana. Aku juga sudah tidak peduli. Lagipula, cukup lihat jejak digitalmu di dunia maya.

Status-status penuh dengki dan minta dikasihani. Astaga, kamu playing victim sekali! Padahal, aku sudah menawarkan banyak solusi untuk membunuh badai ciptaanmu sendiri.

Sekali-dua kali, aku masih bisa menerimamu kembali dengan sepenuh hati. Lama-lama, pola perilakumu terbaca sekali. Berulang kali, hingga lama-lama aku ngeri. Sepertinya, kau benar-benar butuh terapi. Okelah, masalah kesehatan mental memang problema terkini.

Tapi, janganlah menjadikannya alasan untuk menyakiti.

Fitur memori di social media menjadi pengukuh jejak digital. Semua postingan akan selalu ada di sana dan kembali muncul ke permukaan, seperti manusia berotak bebal.

Jangan salahkan aku, bila ini yang kuingat tentangmu…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.