Di Bawah Dua Senja

di bawah dua senja - fiksi by Gadis Senja

Di Bawah Dua Senja – Adakah cinta?

“Senja di sini berlalu terlalu cepat.”

“Benarkah?”

“Begitulah. ‘Kan sedang musim dingin.”

“Oh, iya. Aku lupa. Hahaha.”

“Nggak apa-apa. Gimana senja di sana?”

“Setiap hari selalu sama. Menjelang pukul empat atau lebih, matahari biasanya baru terbenam. Begitu pukul enam ke atas, biasanya langit sudah gelap.”

“Wah, kedengarannya enak. Kamu nggak perlu menggigil kedinginan.”

“Tapi kadang bisa panas sekali kalau siang, meski hujan sesekali turun. Kamu juga pasti banjir keringat di sini, karena lembab sekali.”

“Hahaha, benarkah?”

“Ya. Eh, jadi acara Tahun Baru-mu kemarin seperti apa?”

“Di rumah aja. Nggak ke mana-mana. Bersalju tebal soalnya.”

“Nggak sama pacar?”

“Haha, aku nggak punya. Lagipula aku juga kurang beruntung soal cewek.”

“Cowok secakep dan semanis kamu?”

“Terima kasih, cantik.”

“Aku juga kurang sukses dalam urusan cowok di sini, tapi aku nggak peduli. Hmm, kalau aku di sana atau kamu di sini, mungkin kita bisa pergi bareng. Makan-makan, nonton film atau konser.”

“Kalau kita tinggal satu kota, kita harus pergi bareng.”

“Yeah.”

“Yeah.”

“Eh, sudah dulu, ya. Harus masak makan malam.”

“Iya, aku juga harus mengurus cucian. Nanti kita teruskan lagi obrolannya.”

“Oke.”

—***—

Gadis itu memandangi ponselnya tanpa berkedip. Foto profil pemuda tampan berkaca mata itu tersenyum manis padanya.

Dia mendesah. Sekilas ditatapnya cermin besar di kamarnya sebelum keluar.

Ada untungnya juga situs kencan. Ada alasan dia enggan memajang fotonya yang seluruh badan.

Oke, mungkin semua orang yang sudah lama mengenalnya (dan mengaku benar-benar sayang padanya) bilang dia cantik. Tapi, mungkin nggak ya, cowok itu bisa mencintai cewek gemuk kayak dia, andai suatu saat nanti mereka benar-benar bertemu muka?

Gadis itu beranjak ke balkon. Di atas, langit senja perlahan menggelap. Dari biru ke ungu, sebelum hitam layaknya malam.

Ini mungkin pikiran konyol, tapi dia berharap pemuda itu ada di sini dengannya sekarang…

—***—

Pemuda itu memandangi ponselnya tanpa berkedip. Foto profil gadis cantik berambut ikal gelap dan kulit cokelat itu tersenyum lebar padanya. Matanya yang menyipit tampak bercahaya.

Dia mendesah. Perlahan, dirabanya sisi kiri wajahnya yang tidak lagi mulus. Ada garis-garis kasar, parut permanen terpeta di sana.

Dia bahkan tidak perlu berkaca. Tatapan mereka selalu mengingatkannya. Ya, termasuk gadis-gadis yang pernah menolak pergi dengannya – atau bahkan sekadar diajak berkenalan. Sebagian masih cukup sopan, hanya tersenyum tipis sebelum menolaknya halus – dengan beragam alasan – sebelum buru-buru pergi meninggalkannya. Sisanya bahkan merasa tidak perlu berpura-pura. Ada yang mengernyit, membuang muka, atau kabur begitu saja. Seakan-akan mereka takut dimangsa.

Sakit hati? Ah, sudah biasa. Pemuda itu enggan membuang-buang waktu, tenaga, dan perasaannya untuk mereka.

Dia tidak bermaksud membohongi gadis itu. Foto profil di situs kencan dan WA yang dipasangnya adalah foto lama, jauh sebelum kecelakaan itu menimpanya…

Mungkin nggak ya, cewek itu bisa mencintai cowok berwajah nggak karuan begini, andai suatu saat mereka benar-benar bertemu muka?

Di luar jendela, senja telah lama lenyap, meski jam di dinding belum menunjukkan waktu malam. Salju kembali turun, seperti beberapa malam sebelumnya. Duduk di ruang tengah dengan perapian menyala, pemuda itu merapatkan selimut flanelnya.

Entah kenapa, harapan konyol itu membuatnya lebih menggigil dari biasanya.

Andai gadis itu ada di sini sekarang, mungkin mereka bisa berbagi selimut berdua. Duduk di depan perapian dengan dua cangkir cokelat panas.

Berpelukan…

 

20

No Responses

Write a response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.