Senja Indonesia

#5 – Pencuri!!

Arrrrrghhh sial…..

Setelah sekian lama aku naik angkot umum seperti ini baru sekarang aku mengalaminya. Padahal aku sudah waspada. Sudah hati-hati.

Semua barangku taruh di tas dan tas kupeluk di dadaku. Aku sudah lakukan semua pencegahan yang diajarkan padaku oleh mama dan papa.

Lagipula, like I said, this is not the first time I took it. Bukan pertama kalinya aku naik angkot. Aku sudah sering.

Hmmm….

Kata mama kalau memang sampai kecopetan/kecurian, aku harus relakan saja.

‘Nis, kamu hati-hati ya di jalan. Apalagi kamu kan naik angkot. Dan pulang agak malam tiap hari. Mama khawatir.’ Ucap mama saat menasehatiku dulu.

‘Iya ma. Nisa paham and ngerti semua yang mama n papa bilang. Dompet taro di tas. Terus tas dipeluk di dada. Baik saat naik ataupun pas di atas. Gitu kan?’ Jawabku mengulang ajaran mama dan papa.

‘Betul. Tapi….. Amit-amit jangan sampai kejadian,’ ucap mama lagi sambil mengetuk meja di hadapan kami setelah mengetuk tempurung kepalanya, ‘kalau sampai kamu kecurian, kamu relakan saja. Lebih penting nyawa kamu dari semua yang hilang. Yah… Jangan kejar kayak jagoan di film-film.’ Kata mama lagi yang diikuti dengan anggukan papa di sampingnya.

Aku masih ingat jelas kata mama aku harus relakan kalau sampai kecurian. Dan sekarang… Kejadian. Apa aku harus merelakannya?

Duh… Aku kesal. Bagaimana bisa hal ini terjadi padaku. Arrrrghhhh. Aku selalu siaga kok. Kenapa malah kejadian.

Orang itu mang sialan. Pakai ilmu apa sih dia. Padahal aku sudah sangat hati-hati dan yakin dia gak akan bisa mencuri apapun dariku.

Aku pun mengambil handphoneku di tas dan mengirimkan sms ke mama.

‘Ma, aku kecurian di angkot. Sumpah ma, aku sudah lakukan semua yang mama dan papa suruh. Tas aku peluk di dadaku kok. Lagian dah beberapa bulan kan aku naik angkot. Baru kali ini.’ Begitu isi smsku ke mama.

Tak lama kemudian, mama membalas smsku. ‘Kok bisa?!?!?!?!? Ya dah. Relakan aja. Yang penting anak mama gak kenapa-napa. Kamu masih punya ongkos pulang? Atau mau dijemput?’

‘Aku gak apa-apa ma. Tapi bener ma aku harus relakan? Mama yakin?’ Balasku.

‘Iya. Relakan aja. Jangan kamu cari masalah. Pulang segera.’

Aku pun langsung pulang. Sesampainya di rumah, mama dan papa sudah menungguku di teras. Begitu melihatku, mereka memelukku.

‘Aduh anak mama. Kamu gak apa-apa kan sayang?’ Tanya mama dan papa hampir bersamaan.

‘Iya. Aku gak apa-apa. Cuma ya itu….. Ilang.’ Jawabku.

‘Apa? Apa yang hilang? Sudah. Kamu tenang aja. Papa belikan yang baru nanti buat kamu.’ Ujar papa.

‘Bener pa? Gantiin ya pa. Yang dicuri….. Hatiku pa. Hatiku dicuri oleh pemuda ganteng di angkot tadi.’ Jawabku sambil senyum nakal.

Mama dan papa pun pingsan.

Ryan

311011 2350

25 Comments

  1. Evi 13 Maret 2013
    • ryan 13 Maret 2013
  2. pindahanmultiply 13 Maret 2013
    • ryan 13 Maret 2013
  3. ayanapunya 13 Maret 2013
    • ryan 13 Maret 2013
  4. araaminoe 13 Maret 2013
    • ryan 13 Maret 2013
  5. Dunia Ely 13 Maret 2013
    • Dunia Ely 15 Maret 2013
      • ryan 15 Maret 2013
        • Dunia Ely 16 Maret 2013
          • ryan 16 Maret 2013
  6. genthuk 14 Maret 2013
  7. lieshadie 14 Maret 2013
    • ryan 14 Maret 2013
  8. Yudhi Hendro 15 Maret 2013
  9. JNYnita 17 Maret 2013
    • ryan 18 Maret 2013
  10. mintarsih28 18 Maret 2013
    • ryan 18 Maret 2013
  11. cumakatakata 14 Juni 2013
    • ryan 14 Juni 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.