#17 – Kejutan….

#17 – Kejutan….

‘Surprise!!!!!!’ Teriak puluhan orang begitu aku membuka pintu rumahku. Beberapa teman, sanak saudara ternyata telah menyusun kejutan untukku. Yah… Hari ini aku menginjak usia 30 tahun.

Aku tertawa menikmati kejutan yang telah disiapkan ini. Kemudian aku menyambut salam dari masing-masing kerabat yang hadir di pestaku itu satu per satu. Ternyata letih juga ya menyalami puluhan orang seperti ini.

‘Happy birthday ya bro.’ Ucap Richard kepadaku. Richard ini sahabat karibku sejak jaman kuliah dulu. ‘Moga makin sukses. Makin terkenal. And… Cepat menikah’.

Aku tertawa mendengar ucapannya itu. ‘Makasih bro. Amin deh buat doa-doa lo tadi.’ Jawabku.

Kini para tamu sedang menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh EO surprise partyku ini. Entah siapa.. Aku masih tak tahu siapa yang mempunyai ide untuk menyelenggarakan pesta ini.

Tadinya aku sendiri tak ingin diganggu. Rencananya begitu aku tiba di rumah, aku ingin segera merebahkan diri dan menutup mataku. Letih… Rasanya ingin segera istirahat agar hari ini cepat berlalu. Tapi ternyata tak dapat kulakukan dengan segera.

Entah kenapa, hari ini, di hari spesialku, aku hanya ingin sendiri sebenarnya. Tak ingin ada segala sesuatu seperti yang terjadi sekarang ini. Aku mencoba menikmati apa yang telah disiapkan oleh keluarga dan teman-temanku sebisa mungkin. Aku tak ingin membuat mereka kecewa.

Dengan alasan ingin mencuci muka, aku ijin meninggalkan ruang tamuku itu. Aku berjalan keluar rumah. Ke arah kebun belakang rumahku, di mana kuhabiskan waktu-waktu sendiriku di sana beberapa hari belakangan ini. Aku duduk di kursi yang menghadap taman yang tertata rapi itu, tapi bukan oleh tanganku.

Kejutan…. Aku tersenyum sejenak. Memang. Tak ada yang lebih mengagetkan daripada kejutan. Sama seperti kejutan yang baru kudapatkan beberapa jam sebelum aku menginjakkan kakiku di depan pintu dan mendapati puluhan orang berkumpul tadi.

‘Kita….’ Ujar sosok di hadapanku tadi. ‘Kita sepertinya sudah tak dapat bersama lagi.’ Lanjutnya dengan nada datar.

Aku yang sedang menggenggam sekotak perhiasan berhiaskan permata kecil di dalam saku jaketku hanya bisa diam. Kalau dalam sinetron lebay di tv, suara guntur menggelegar bertalu-talu telah menjadi background kondisiku saat itu.

Aku segera melepaskan genggamanku itu dan terduduk dengan lemas di hadapannya. Sosok yang telah mengisi hari-hariku selama setahun belakangan. Sosok bernama Anis. Gadis cantik yang kurasakan cocok menjadi ibu dari anak-anakku kelak.

‘Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama. Bukan keputusan gegabah yang aku ambil.’ Lanjutnya dengan tenang layaknya seorang bos berhati dingin yang memecat anak buahnya. ‘Kita sudah gak cocok lagi.’

‘Maksudmu?’ Tanyaku.

‘Kau dan aku… Kita tak sejalan. Kamu dengan pemikiran bebasmu dan aku dengan keterbatasanku.’ Ujarnya.

‘Bukankah…. Itu justru yang menyatukan kita dulu?’ Tanyaku kembali.

‘Iya… Tapi itu dulu….’ Dia menjawab sambil mengaduk minuman dingin di hadapannya. Tak sedikitpun dia menatapku sejak dia mengatakannya tadi. ‘Sekarang… Aku rasa, kita terlalu berbeda.’

‘Tapi.. Selama ini kita baik-baik saja kan?’ Ujarku. ‘Tak sedikitpun perselisihan ada di antara kita. Kenapa tiba-tiba kamu mengatakan seperti itu?’

Dia terdiam. Menghela nafasnya perlahan sebelum menjawab. ‘Iya. Karena selama ini aku memendamnya. Aku tak ingin mempermasalahkannya.’

‘Tapi justru itu yang menyiksaku.’ Lanjutnya. ‘Setiap malam setelah bertemu denganmu, aku hanya dapat termenung dan diam. Aku pikir awalnya akan dapat menenangkan diriku. Namun lama-kelamaan, aku merasa gila dengan diamku itu.’

‘Kenapa kamu tak pernah menceritakannya?’ Tanyaku. ‘Semua pasti bisa kita selesaikan. Kalau kamu mengatakannya sejak awal, kamu takkan tersiksa seperti itu.’

‘Justru itu… Aku berpikir, pada akhirnya kamu akan menyadari hal itu tanpa aku perlu mengatakannya. Tapi nyatanya… Tidak.’ Lanjutnya. ‘Kamu sepertinya tidak mengerti dan mencoba mengerti aku.’

‘You never tell me! How am I supposed to know?’ Sergahku dengan agak keras.

‘See.. That. Itu contohnya kita gak bisa bersama. Kamu.. Dengan kebebasanmu.’ Ujarnya dengan menggerakan jari membuat simbol kutip di udara. ‘Itu hanyalah ungkapanmu saja. Kebebasan pemikiran. Tapi sebenarnya, kamu itu egois.’

‘That’s why we can’t be together.’ Ucapnya final. Dia mengambil handphonenya dan mengetikkan beberapa kalimat sebelum beranjak meninggalkanku. ‘Aku yakin. Kamu kan jauh bahagia bila dapat bersanding dengan yang sepaham dengan kebebasanmu. Jadi… Bye Chad.’

Kejutan….. Tanpa aku sadari aku menghela nafas panjang dan di sampingku sudah ada Richard. Entah kapan dia duduk di kursi sebelahku. Dia hanya menghisap rokoknya tanpa berkata apapun.

‘Siapapun dia….’ Tiba-tiba Richard berkata, ‘jika dia meninggalkanmu di hari bahagiamu, dia bukanlah yang terbaik untukmu.’

‘Jika seseorang memintamu menjadi seseorang yang bukan dirimu, dia bukanlah untukmu.’ Lanjutnya. ‘Orang yang mencintaimu akan menerimamu apa adanya tanpa merubahmu. Hanya membuatmu menjadi lebih baik.’

Richard kembali menyesap rokoknya. ‘Anak-anak dah pada pulang bro. Tadi gw bilang ke mereka kalau lo capek. Jadi pestanya nanti saja dilanjutkan di akhir pekan.’

‘Loh?? Kenapa? Gak enak gw…’ Jawabku yang segera berdiri dan mendapati rumahku sudah sepi.

‘Sudahlah….’ Ujar Richard sembari menepuk pundakku. ‘You.. My friend… You need your time alone today. So… Take it.’

‘Just remember what I’ve said bro….’ Richard berhenti sejenak sebelum meninggalkanku sendiri. ‘If she leave you for who you’re not to be, she doesn’t deserve you at all.’

Ryan
110912 0800

2

14 Responses

  1. Masya
    19 Februari 2013
    • ryan
      19 Februari 2013
      • Masya
        19 Februari 2013
        • ryan
          19 Februari 2013
          • Masya
            20 Februari 2013
          • ryan
            20 Februari 2013
          • Masya
            20 Februari 2013
  2. Ely Meyer
    19 Februari 2013
    • ryan
      19 Februari 2013
  3. johanesjonaz
    20 Februari 2013
    • ryan
      20 Februari 2013
  4. metamocca
    20 Februari 2013

Write a response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.