#11 – Mata

#11 – Mata

Mata…

Itulah awal dari segala rasa. Setidaknya itu yang aku rasakan. Jika aku menyukai seseorang, semua harus dimulai dari sana. Mata itu dapat memberitahukan segalanya. Apakah dia jujur. Apakah dia berbohong. Kata orang, mata itu jendela hati seseorang. Itulah yang aku rasakan. Setidaknya saat aku bertemu dengan dirimu dulu.

Dari matamu, aku dapat melihat adanya sebuah kejujuran dan ketulusan saat aku bertemu denganmu. Kau yang tak kukenal. Kau yang secara tiba-tiba mengajak bertemu melalui sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal. Sungguh… aku sendiri bingung. Kenapa saat itu aku berani dan mau bertemu denganmu yang tidak aku kenal sama sekali.

Nekat… kalau kata orang lain. Aku sungguh nekat saat memutuskan bertemu denganmu saat itu. Tapi satu hal yang pasti. Aku ingin berteman dengan siapa saja, termasuk dirimu. Itu pikirku saat aku memutuskan untuk bertemu denganmu. Dan selama pertemuan itu, aku selalu berusaha memandang matamu.

Sinar matamu cerah. Memberi kenyamanan bagiku. Hangat. Menyelimutiku dengan tatapanmu. Itulah yang kurasakan dan pertemuan itu kita akhiri dengan sebuah pertemanan yang menyenangkan. Bagiku… saat itu, kau telah menjadi bagian dalam hidupku.

Yah… sinar mata… mata adalah jendela kehidupan. Termasuk jendela cinta. Aku melihat ketulusanmu dalam matamu saat mengucap cinta kepadaku. Dan aku pun terlena dalam keteduhan mata itu. Aku bagaikan dalam peluk hangat awan yang ringan dan lembut. Yang membelaiku dengan setiap sentuhannya.

Terlena… seperti semua remaja yang sedang jatuh cinta. Bedanya, aku tak lagi remaja. Sudah dewasa, untuk ukuran usia. Tapi… dalam urusan cinta, aku ini hanyalah seorang anak TK yang tak mengerti apa-apa. Hanyalah bacaan romantisme dalam puluhan novel yang pernah kulahap dan film-film penuh mimpi cinta yang pernah aku tatap, yang menjadi guruku dalam bercinta. Tak seperti dirimu yang telah berpengalaman – yah… setidaknya itulah yang kau katakan.

dulu aku melihat binar matamu itu,
gugup ku tak tersenyum ku tak percaya,
tak pernah ku melihat sepasang kelembutan,
selembut masa itu haa….

kini aku melihat kilau matamu itu,
lega aku tersenyum dan kupercaya,
dan masih ku melihat sepasang kehangatan,
sehangat mata itu, indah bersinar berkilauan,
semakin kuat untukku,

Reff :
mata yang paling indah hanya matamu,
sejak bertemu kurasakan tak pernah berubah,
sinar yang paling indah dari matamu,
sampai kapanpun itulah yang terindah

dulu aku melihat gugup ku tak tersenyum,
kini aku melihat lega ku tersenyum
dan masih ku melihat dalamnya kerinduan,
sedalam mata itu,
selalu bersinar berkilauan, semakin kuat untukku

back to reff

Ah… kawan… andai kalian mengerti rasaku saat itu. Layaknya lagu Titi Dj. Aku terbuai dalam sinar mata itu. Mata yang mampu memberi aku kedamaian dan kesejukan di hari-hari yang menyengat kulitku ini. Mata yang mampu memberi keyakinan akan hidup yang akan kujalani bersamamu. Mata yang membuatku kuat menghadapi semua yang ingin menyurutkan rasaku padamu. Mata yang membuatku tetap tenang menghadapi segala masalah yang menghadang.

Namun…

Semua itu telah berlalu kawan. Kau tahu? Semua itu hilang. Tak berbekas.

Tatap hangat mata itu telah menghilang dari kehidupanku. Keteduhan itu telah terenggut dari mata itu. Sinar yang dulu menghiasi kehidupanku telah menghilang dan terganti oleh badai. Ke manakah semua itu? Kenapa semua terjadi? Seandainya….

Yah… seandainya…

Seandainya aku tak beranjak dari sisimu demi sebuah masa depan yang lebih baik. Masa depan kita… salahku adalah tak mengatakannya kepadamu. Namun.. biarlah. Sekarang semua telah terjadi. Gelap telah menghiasi hidupku dan aku mengerti.

Seandainya… cukup!!! Aku sudah lelah dengan seandainya yang takkan pernah beranjak lepas dari hanya angan dalam pikir.

Aku lelah…

Kaupun lelah…

Aku lelah mengejar bayangmu… aku lelah mempertanyakan dirimu…

Kaupun lelah mengejar mimpi.. yang bagimu tak ada bersamaku…

Biarlah… biarlah semua berlalu…

Aku yakin, akan ada sinar lain yang kan memberikan kehangatannya untukku. Yang akan mengganti semua tetesan air mata yang terurai setiap malam untuk dirimu dengan sebuah senyum di bibirku.

Kau dan aku… matamu… hanyalah seutas benang jodoh yang sempat terikat dari ribuan benang jodoh lainnya dalam hidupku. Biarlah…

Biarlah semua berlalu…

Biarlah dirimu memberi sinarmu kepada mereka yang terpesona…

Dan biarlah diriku mendapatkan sinar lain dalam hidupku.

Benang merah di antara kita telah terputus di saat sinar matamu meredup kepadaku. Jalanmu dan jalanku telah mengarah pada dua pantai yang berbeda.

Selamat jalan kawan… selamat berpisah kekasih…

Ryan

250512 1205

1

6 Responses

  1. Heri Purnomo
    27 Februari 2013
    • ryan
      27 Februari 2013
  2. zaki19482
    28 Februari 2013
    • ryan
      28 Februari 2013
  3. Bung Iwan
    28 Februari 2013

Write a response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.