Perjalanan Senja Gadis Senja Lukisan Itu…

Lukisan Itu…



Aku tak mengira hal mengerikan itu terjadi padaku.

Semua berawal dari kelelahan ekstrimku akan hidup. Realita yang menyesakkan. Aku baru saja dipecat dari pekerjaanku. Belum selesai cobaan,pacarku, Aida, hamil. Tidak, aku belum siap. Kurasa aku takkan pernah benar-benar siap.

Aku tahu, aku lelaki pengecut. Melarikan diri ke hotel terpencil ini di pinggir Pantai Selatan yang katanya terkenal angker itu. Andre, abang Aida, mengancam akan membunuhku kalau aku tidak segera bertanggung-jawab dengan menikahi adiknya. Ah, Aida. Maafkan pacarmu yang brengsek dan pengecut ini.

Apa yang kulakukan sekarang? Tak banyak. Hanya berdiam diri di kamar hotel, memandangi lukisan di dinding. Gambar pantai, dengan air laut biru-kehijauan yang tampak tenang. Seperti bukan dimana-mana, bahkan berbeda sekali dengan pantai yang tampak di luar jendela kamarku.

Di pantai dalam lukisan itu, tampak seorang lelaki bercelana renang hitam duduk di atas kursi pantai bernaung payung garis-garis merah-putih. Standar sekali. Lelaki itu memakai kaca mata hitam, tampak menikmati suasana. Seulas senyum menghiasi wajahnya.

Lantas aku berpikir, atau lebih tepatnya, membatin:

Ah, andai saja aku berada di posisinya…

Tak lama, aku tertidur. Aku bermimpi berada di pantai itu, yang benar-benar persis seperti yang di dalam lukisan. Kudekati lelaki yang tengah duduk di kursi pantai itu. Langkahku terhenti saat tiba-tiba dia menoleh dan tersenyum ramah.

“Hai,” sapanya. “Kayaknya Anda lelah. Mau coba duduk di kursi ini?”

Tanpa sadar aku mengangguk. Lelaki itu berdiri, sementara aku gantian duduk di kursi pantai itu. Memang benar, terasa nyaman. Lelaki itu bahkan memberikan kaca mata hitamnya padaku.

“Santai-santai saja dulu,” katanya riang. “Saya mau jalan-jalan sebentar. Pegal soalnya.”

“Oke.” Ternyata memang benar, rasanya nyaman. Matahari bersinar hangat. Suara debur ombak yang pelan begitu lembut, bagai musik dari alam di telinga.

Aku bersandar dan – tanpa sadar – memejamkan mata…

— // —

Kukira aku ketiduran dalam mimpi. Aneh. Apakah itu berarti aku akan terbangun kembali di dunia nyata, menghadapi semua masalahku di sana?

Mataku terbuka. Tunggu sebentar, ada yang aneh. Aku masih di pantai yang sama. Lelaki tadi belum kembali.

Aku berusaha bangkit, namun sulit. Tak hanya itu, lenganku terasa seperti dilem – menyatu dengan kursi pantai itu.

Dan matahari seakan tak pernah berhenti bersinar, makin lama makin menyengat…

“To…” Kusadari, suaraku tak lagi keluar. Aku tak bisa bangun.

Aku terjebak dalam lukisan itu…selamanya. Tak bisa keluar, kecuali ada orang bodoh lainnya yang berharap berada di posisiku sekarang…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.