Site icon Perjalanan Senja

Biarkanku Sendiri

Adakah yang tahu salah satu cerita dari kumpulan cerpen Dee Lestari yang berjudul Curhat buat Sahabat?

Sahabat yang mencurahkan semua kejadian yang dialaminya, tentang kekasih hati. Pada sahabat terbaiknya, yang selalu ada untuknya. Karena rasa di hatinya untuk sahabat.

Ya… cinta. Mencintai sahabat sendiri, namun sosok itu takkan pernah tahu rasa itu di hati.

Itulah yang aku alami sekarang ini.

Menyayanginya, namun tak pernah bisa mengungkapkan apapun. Hanya dapat mendengarkan semua cerita yang mengalir dari bibirnya yang menghitam karena kebiasaan merokoknya.

***

“Sudah cukup rasanya aku menjelajah dunia ini. Semua sama saja. Hanya manis di mulut. Tak ada yang benar-benar sepenuh hati menyayangi.” Ucapmu yang kemudian diikuti deretan asap putih.

Entah ini yang ke berapa kalinya. Entah wanita mana lagi yang kali ini telah mematahkan hati seorang pria tegap bermata hitam kelam ini. Mata yang selalu menyenangkan untuk dilihat. Aku yakin, kau akan bisa melihat jernihnya dunia di dalam mata itu.

Pria polos yang jarang ditemukan di era sekarang ini. Pria yang menjunjung kesetiaan dalam setiap hubungan yang dijalaninya. Namun berkali-kali pula, hatinya dipatahkan oleh para wanita itu.

Kalau kamu bilang, pria tidak dapat patah hati oleh wanita, dialah bukti nyatanya.

“Dia bilang kalau aku tidak perhatian padanya. Padahal… setiap hari aku selalu menanyakan dirinya. Kapanpun aku bisa, pasti akan langsung menghubunginya.” Kali ini, rokok yang masih separuh itu dipadamkan kasar di asbak.

“Aku… kurang… perhatian.”

“Coba Dem… apa salahku coba? Sampai berulang kali seperti ini.”

Kudengar helaan nafas dari hidung bangirnya di atas kumis tipisnya itu.

“Yah… mungkin… Mungkin loh ya, aku juga kan gak tahu persis seperti apa komunikasi kalian.” Aku mencoba menjawab pertanyaannya. “Mungkin, kamu menghubunginya di saat kamu jeda, dianggap tidaklah perhatian.”

“Cobalah di sepatunya. Dia mungkin mengharapkan dirimu menghubunginya lebih sering. Atau bukan di sela-sela kesenggangan waktumu.”

Dia hanya terdiam. Mengambil sebatang rokok dan menyalakannya kembali.

“Yah… kalau itu yang dia mau, aku takkan bisa. Kamu tahu sendiri kan, waktu kerjaku seperti apa. Tuntutan kerjaku seperti apa. Meluangkan waktu di antara semua itu adalah privilege yang selalu aku berikan padanya. Tapi kalau dianggap tidaklah cukup, ya mungkin bukanlah untukku.”

***

Percakapan malam itu terus berlanjut. Dialog berulang-ulang bagai kaset yang diputar non-stop hingga suaranya rusak. Hingga akhirnya, kerusakan itu dia rasakan sendiri dan membuatnya membungkam sendiri.

Dia tetap saja menganggap sosok wanita terakhir itu tidak sesuai untuknya. Kemudian dia memutuskan untuk mundur. Atau diam dan tak menghubunginya kembali.

Jika malam sepi bisa berteriak, mungkin suara hatiku akan kau dengar.

Aku sering berpikir, apa yang kan terjadi jika saja aku mengutarakannya.

Apakah dia akan menerima kenyataan, sahabat baiknya telah jatuh hati padanya selama ini?

Ataukah dia kan menjauh.

Dilema!!!

Dilema mencintai sahabatmu sendiri!

Menyatakan atau kehilangan sahabatmu.

Mungkin aku hebat dalam memberi saran padanya. Untuk tetap berusaha mencari orang yang tepat di luar sana. Namun, untuk hatiku sendiri… biarkanku sendiri. Tak perlu kuutarakan.

Karena diam adalah jalan terbaik untukku.

Exit mobile version