Site icon Perjalanan Senja

Album Foto Nenek

Foto: freepik.com

Gadis remaja itu menghampiriku di suatu pagi yang cerah. Dia masih muda, jangkung, dan berambut hitam panjang. Wajah ovalnya berkulit pucat, dengan mata biru dan bibir yang tebal, penuh, dan tampak cemberut. Yah, untunglah bibir itu kemudian tersenyum ramah saat dia melihatku.

“Hai, Nenek,” sapa gadis itu hangat. Aku berkedip dengan kaget. Siapa? Dia menyapaku? Tapi gadis itu telah duduk di sampingku. Kulihat dia membawa sebuah buku tebal. Tampaknya seperti sebuah album foto. Sampulnya berwarna merah gelap, dengan nama seseorang yang tercetak di bagian depan:

Itu namaku. Kukenali nama itu, tapi aku belum bisa mengingat gadis itu. Seakan bisa membaca pikiranku, gadis itu memberitahu namanya saat kami saling bertukar pandang:

“Ini aku, Peggy,” katanya padaku. “Aku cucu Nenek.”

“Margaret!” seruku bahagia. Tenggorokanku tiba-tiba tercekat saat kusentuh wajahnya yang lembut dan manis. Kusadari matanya juga tampak familiar, saat air mata mulai merebak di mataku sendiri. “Oh, sayangku! Maafkan Nenek. Kok Nenek bisa lupa ya, sama kamu?”

“Tidak apa-apa, Nenek,” Peggy menenangkanku sambil menepuk-nepuk tangan keriputku dengan lembut. Lalu dia memintaku untuk ikut melihat-lihat buku itu. “Aku menemukan ini di loteng. Kata Mama satu album foto ini isinya punya Nenek semua – dan Mama benar. Mau lihat?”

“Tentu saja.” Berkat Peggy yang manis, aku mengalami hari terbaik sejak terakhir entah kapan. Halaman demi halaman, semua ingatan itu membanjir kembali ke dalam benakku. Aku ingat gaun pertamaku yang kupakai sewaktu SD, kakak perempuan yang dulu sering bertengkar denganku, abangku yang dulu sering menjemputku sepulang sekolah …

“Kata Mama Nenek dulu sangat berani, sangat mandiri,” Peggy berkomentar, setelah aku bercerita mengenai tiap foto yang kami lihat berdua. Tiba-tiba, benakku tak lagi terasa berkabut. Semuanya terasa sangat jelas. Kuceritakan pada Peggy mengenai gaun pesta dansa akhir tahun ajaranku di SMA, saat ibu dan kakak perempuanku membantu bersiap-siap. Aku merasa menjadi yang tercantik malam itu, terutama karena semua teman SMA-ku memilihku menjadi Ratu Pesta Dansa. Tidak masalah meskipun malam itu aku datang tanpa pasangan kencan – atau aku berdansa dengan pacar orang lain yang malam itu dipilih sebagai Raja Pesta Dansa.

Air mataku menetes lagi saat kutunjuk seorang laki-laki kurus yang berfoto denganku saat kuliah. Dia adalah salah satu sahabatku dan dia meninggal sangat muda.

“Usianya baru 26,” kuberitahu Peggy. “Dia mendapatkan karir impian Nenek dan hidupnya tadinya terasa panjang. Dia menghilang tiba-tiba selama dua minggu, tanpa kabar. Tanpa apa pun. Tahu-tahu yang Nenek dengar, sepupu Nenek – yang juga teman dekatnya – menelepon Nenek untuk memberi kabar. Teman Nenek meninggal karena penyakit misterius. Kami ikut melayat ke pemakamannya, tapi keluarganya tidak mau memberitahu penyakit teman Nenek.”

“Aku ikut sedih, Nenek.” Peggy memelukku.

Lalu, semakin banyak cerita yang kuingat setiap kali melihat foto-foto berikutnya. Pekerjaan pertamaku, konser musik yang pernah kudatangi bersama sahabat-sahabatku. Laki-laki kurus bermata biru yang kukenal di dunia maya, yang kemudian melamarku dua tahun sesudah kami berdua saling mengenal. Dia mempunyai bibir penuh yang sama dengan bibir Peggy.

“Kakekmu,” desahku sambil tersenyum. Kali ini, kubiarkan air mataku mengalir. “Cinta sejati Nenek. Nenek sudah cerita belum, kalau kakekmu sebenarnya 14 tahun lebih muda dari Nenek?”

“Sudah, Nenek,” jawab Peggy sambil tersenyum. Mata birunya tampak cerdas seperti mata kekasihku, sehingga sesaat aku merasa sedih. “Pasti rasanya keren sekali.”

“Nenek tidak pernah menyangka laki-laki seperti dia mau,” aku mengakui. Sayang sekali, seorang perempuan bertubuh besar dan berpakaian serba putih datang dan menghampiri kami berdua. Dia tersenyum hangat untungnya.

“Maaf, dik,” perempuan itu memberitahu Peggy. “Jam berkunjung sudah habis. Adik boleh ke sini lagi saat jam empat sore nanti.”

“Ahh, kami belum selesai,” Peggy ingin protes, namun kugenggam tangannya dengan lembut. Kutatap matanya dalam-dalam.

“Tidak apa-apa, sayang,” aku meyakinkannya. “Kamu bisa ke sini lagi nanti. Nenek masih akan di sini.”

“Tapi … bagaimana kalau Nenek nanti lupa lagi?” Tiba-tiba Peggy tampak seperti akan menangis. “Nenek ma-mau simpan album foto in-“

“Jangan, kamu saja yang simpan, sayang,” kudesak dirinya. “Nenek takut akan hilang kalau disimpan di sini.”

“Oke.” Meskipun cemberut, Peggy mencium pipiku dan berdiri, sambil memeluk erat album foto itu. “Sampai jumpa lagi, Nenek.”

“Tentu saja, sayang.”

Setelah Peggy pergi, perawat itu membawaku kembali ke kamarku. Sambil duduk di samping ranjang, kutatap diriku sendiri di cermin. Kusentuh wajahku sendiri yang berkeriput, lalu tersenyum. Untuk sesaat, aku teringat siapa diriku selama ini. Aku merindukan versi muda diriku, saat kulitku masih lembut – dan kekasih sejatiku masih hidup dan bersamaku …

Semoga saja aku tidak melupakannya besok. Semoga saja gadis itu akan kembali dengan album foto itu …

Exit mobile version