Site icon Perjalanan Senja

#28 – Footsteps

perjalanan senja - fiksi perjalanan hidup

Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan
Memeluk pantaimu erat

Aku Ada by Dewi Lestari

Masih kuingat malam itu, di bawah sinar rembulan, kau dan aku.

“Mungkinkah kita kan bersama selamanya?” tanyamu padaku.

Langkahku terhenti seketika, menatap punggungmu yang terus berjalan. Aku tidak dapat menjawabnya. Siapakah yang ada dalam kehidupan ini dapat menjawab keabadian?

Kau pun akhirnya menyadari dan membalikkan badanmu. “Tenang, aku tidak menuntutmu untuk menikahiku kok. Aku hanya berharap kita dapat selalu bersama. Itu saja.”

“Aku juga inginnya seperti itu Mik. Semoga saja keinginan kita dapat menjadi kenyataan.” Aku pun menggenggam tangannya dan kami menghabiskan malam terakhir kami di Pulau Dewata itu dengan menikmati pantai di hadapan kami, tanpa sepatah kata sedikit pun.


Setahun berlalu, hari ini aku kembali di sini Mik. Di pantai tempat kau bertanya malam itu. Tak ada dirimu. Hanya aku dan senja di hadapanku yang kian memerah dan lagu Dee yang kembali menemaniku.

The Footsteps

‘Romantis ya… kita diberi kesempatan melihat percintaan abadi di dunia ini. Mentari dan Laut. Sejoli yang tak pernah menyatu. Tapi mereka selalu sepakat untuk berjumpa. Kecuali kalau sang Hujan sedang menguasai dunia.’ 

Percintaan Mentari dan Laut, aku tertawa kala itu. Mentertawakan sisi puitismu itu, sisi yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Kupalingkan wajahku dari senja di hadapanku itu, dan menatapmu. Dari sisi kiri, yang menurutku adalah sisi terbaikmu, wajahmu merona merah jingga. Tertimpa senja di hadapanmu itu.

gambar dari pexels

Aku masih menatapmu lekat, saat kau tiba-tiba memutar wajahmu dan menatapku, melihatku mencuri pandang. Kau tertawa. Mendekatkan wajahmu padaku dan kemudian kau menciumku. Lembut di bibirku ini. Hangat. Kita tak peduli lagi dengan lokasi kita saat ini. Berciuman di pinggir pantai. Impianku selama ini, terpenuhi bersamamu Mik.

Aku merasakan air mata menetes dari mataku. Lagu Dee telah membawa sisi melankolisku berkuasa. Semua kenangan tentangmu, pantai ini dan senja telah menguasaiku. Aku merindukanmu Mik. Ke mana kini aku harus lari jika rindu ini telah meluap, seperti saat ini.

Aku pun berdiri dan melangkahkan kakiku mendekati pantai. Kurasakan air pantai membasuh kaki telanjangku. Sendal kubawa di sebelah kananku. Di telingaku masih menempel suara khas Dee dengan laguku, lagu kami. Kutengokkan kepalaku ke belakang, jejak demi jejak kaki telah kubuat. Tak lagi sepasang, hanya jejakku. Sendiri. Kubalikkan kembali kepalaku, menatap laut nan luas di sana.

“Hey… berhenti!!!” Sebuah tangan menahanku untuk kembali maju yang segera kutolak dengan kuat. Aku hanya ingin maju.

“Hey… STOP!!!”

Sosok tak dikenal itu menahanku dengan kuat. Aku pun terjungkal. Kurasakan asin bersama dengan air yang memenuhi mulutku di tepi pantai itu. Aku berusaha mengerjapkan mataku namun perih yang kurasakan. Sosok itu kemudian membantuku ke posisi duduk. Aku berusaha melihat siapa sosok yang telah menghentikanku itu.

“Kau sudah gila???” Sosok itu menghardikku, layaknya seorang kakak memarahi adiknya yang salah. “Ingin mati? Sebegitu picik pikiranmu sampai masalah apapun yang kau hadapi membuatmu menginginkan kematian?”

Aku masih berusaha mengerjapkan mataku, ingin mengetahui siapa sosok yang menahanku itu. Dari genggamannya, baunya, aku merasa familier. Seseorang yang pernah di sisiku, yang sekarang ini aku rindukan selalu. Apakah memang dia? Tapi tak mungkin… Dia…

“Seberapa beratkah hidupmu itu sampai harus mengakhiri hidup?” Sosok itu menyelipkan tangannya di bawah tanganku dan mengangkatku dengan mudah. “PHK? Ditinggal kawin? Ditinggal mati?”

Baca juga: Fiksi – Memori Senja Denganmu

Dia terus saja berbicara saat menolongku. Sedangkan aku masih berusaha mengingat bau yang ada di belakangku ini. Berusaha meyakinkan bahwa memang itu adalah bau dirinya yang kurindukan. Mik. Benarkah itu kamu?

“Mi… Mik?” tanyaku ragu, mataku masih agak perih saat kubuka. Buram.

Sosok itu terdiam. Tapi aku tahu dia masih di sana, walau tangannya kini sudah melepas pegangannya padaku. Aku masih dapat merasakan dia di sana. Aku mencoba mengucek mataku, walaupun agak perih, aku ingin tahu siapa dia.

Saat kubalikkan kepalaku ke belakang, aku dapat melihat seseorang tengah berdiri di dekatku. Aku masih mencoba mengenyahkan perihnya mataku terkena air garam itu.

“Jangan dipaksa!!” Sebuah tangan menghentikan tanganku untuk mengucek kembali. “Bahaya. Sini…”

Dia menarikku ke suatu tempat menjauh dari tepi pantai itu. Kemudian aku merasakan ada satu botol plasti disodorkan ke tanganku. “Cuci pakai ini. Jangan dikucek lagi.”

Aku membersihkan mataku yang perih itu dengan air botol yang diberikan. Perlahan terasa perih itu memudar. Masih ada, namun tak seperih tadi. Aku pun mencoba membuka mataku dan… Aku hanya dapat diam melihat sosok itu.

“Mik. Kamu…”

Review Kuliner Anak Muda

Sosok itu tersenyum padaku. Sedangkan aku masih hanya membeku, menatap sosok yang sedang kurindukan sejak tadi. Dia tak berubah. Masih dengan tattoo naga di lengan kirinya. Hanya saja kini tattoo itu sudah ditemani dengan sebuah tattoo yang tak kuketahui apa gambarnya di lengan sebelah kanan. Dia menggunakan kaos lengan buntung dengan celana pendek putih kotak-kotak.

“Ya… ini aku. Aku Miki. Miki yang menemanimu setahun lalu berjalan di sini.”

“Tapi…”

“Kenapa? Kenapa kau lakukan itu? Sebegitu burukkah hidupmu sekarang sampai kau ingin menenggelamkan dirimu?”

“Aku… aku…”

“Kamu yang kukenal takkan seperti ini. Tak sekali pun kamu berpikir seperti itu.” Miki mulai menaikkan volume suaranya. “Memangnya semua itu akan berakhir kalau kau lakukan?”

Genggaman tanganya padaku terasa lebih kencang sekarang, “Lalu, bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apakah mereka akan senang mendengar berita ini? Apalagi kau sekarang di sini, jauh dari mereka. Menurutmu apa yang akan terjadi pada mereka?”

Aku hanya dapat menundukkan kepalaku. Mataku terasa panas. Apa yang dikatakannya memang sudah kupikirkan dan hanya membuat kepalaku semakin pusing. Aku…

“Yah… memang hidupmu tak seperti yang kauinginkan. Tapi itu bukanlah alasan untukmu mencabut nyawamu sendiri. Hidupmu masih jauh ke depan. Jangan… jangan pernah sekalipun kamu pikirkan ataupun lakukan itu lagi.” Dia mengangkat wajahku dan menatapku lekat.

Dihapusnya air mata yang sudah membasahi pipiku itu dengan jari tangannya. Kemudian dia menempelkan bibirnya lembut di kedua kelopak mataku dan kemudian keningku. Sebelum akhirnya menutup bibirku lekat. Masih seperti dulu. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku dan seluruh sarafku merasakannya. Kerinduan yang tadi menyelimutiku kini memudar terobati.

“Kamu itu mutiara terindah yang pernah kutemui dalam hidupku. Jangan biarkan dirimu meredup hanya karena masalah dalam hidup. Semua akan berlalu, these too shall pass, pada waktunya. Satu per satu masalahmu akan berlalu dan hidupmu akan menjadi indah kembali. Tetaplah berjuang. Jangan pernah menyerah. Sepertiku….” Suaranya menggantung setelah mengucapkannya, aku dapat mendengar dan merasakan helaan nafasnya.

“Jangan… jangan pernah menyerah. Sekalipun masalah yang kita hadapi itu dirasakan menghimpit dada dan membuat kita susah bernafas.” Dia kembali mencium keningku. “Berjanjilah padaku kau akan kuat. Menghadapinya semua. Berjuanglah terus, jadi pejuang kehidupan.”

Aku menganggukkan kepalaku. “Selama kamu di sisiku, aku pasti akan kuat.”

“Maafkan aku, Dian. Aku tak mungkin tak dapat menemanimu selalu. Tapi aku akan selalu ada di sini.” Dia menunjuk dadaku. Hangat kurasakan menjalar di dadaku. “Aku kan selalu mencintaimu, sekarang, selamanya.”

“Jangan…” Aku menggelengkan kepalaku. “Jangan katakan itu. Seakan kau kan pergi dari sisiku. Please, stay.” Aku menggenggam erat tangannya, tak ingin melepaskannya.

Dia kini mengangkat tanganku dan menciumnya. Tersenyum padaku.

“Aku harus pergi sekarang Dian. Kamu tahu itu sejak awal. Bahwa aku harus pergi lagi.” Dipeluknya diriku erat. Wangi tubuhnya yang khas, aroma pantai, menyergap indera penciumanku. Menggetarkan saraf-saraf kenanganku bersamanya selama ini.

Please… don’t go. Stay. Here. Forever.” Pintaku, masih dalam pelukannya.

Miki melepaskan pelukannya dan menatapku erat. Dia tersenyum dan mencium keningku kembali yang kusadari bahwa itu adalah untuk terakhir kalinya.

“Aku harus pergi. Kuharap kau terus tegar dan tak menyerah pada hidup ini. Ingatlah, akan selalu ada jalan bagi mereka yang selalu berusaha.” Selesai mengatakan itu, sosok Miki menghilang dari hadapanku. Aku pun menangis.

“Aku kan selalu mencintaimu Mik. Rindu ini kan jadi milikmu. Dan aku takkan menyerah.” Batinku. Aku mengusap air mata yang telah membasahi pipiku. Kutatap malam yang kini telah menggantikan senja di pantai itu. Kurasakan sebuah sentuhan di pipiku. Aku pun menoleh.

***

“Mbak… mbak…” suara asing itu menyeruak dalam lamunanku bersama dengan sentuhannya barusan.

Aku mengerjapkan mataku dan setelah menyesuaikan dengan sinar di sekelilingku, aku melihat ada beberapa bayangan kepala di hadapanku.

“Mbak… mbak gak apa-apa?” Tanya salah satu dari kepala itu. Aku mencoba untuk duduk dibantu oleh beberapa orang yang sedang mengerumuniku itu. Setelah membersihkan pasir yang menempel di tubuh dan rambutku, aku tersenyum kepada mereka.

“Gak apa-apa. Makasih banyak mas-mas, mbak.”

“Syukurlah kalau gitu. Untung tadi dilihat oleh mas itu. Kalau tidak… “ ujar seorang wanita tua berkepang di sisi kiriku sambil menunjuk satu sosok pria yang kuyup. Pria itu menolehkan kepalanya kepadaku dan tersenyum.

Senyum yang sama hangatnya dengan senyum Miki, yang meninggal 6 bulan lalu saat ingin menjemputku. Aku menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih kepada pria itu yang dibalas segera dengan gerak tangan yang tak kumengerti. Tapi gesture tubuhnya mengatakan: ‘sama-sama.’

Lanjutan: Footstep#2

Exit mobile version